Wednesday, December 22, 2010

Ikhlas - Manfaat Ikhlas

Ikhlas

Hari Kamis datang lagi, saatnya pengajian mendalam tentang hati dari Ust. Muhsinin Fauzi. Kali ini tentang ikhlas. Sayang sekali lagi, saya tidak hadir dari awal. Mudah-mudahan dari apa yang saya tuliskan dapat bermanfaat.

Tulisan ini cukup panjang, maka saya bagi menjadi dua bagian.

Tiga manfaat dari ikhlas

1. Diterimanya amal

Ikhlas tidak ada kaitannya dgn balasan dan penerimaan dari orang lain. Penerimaan di dunia nggak mempengaruhi hatinya.

Keikhlasan dapat mendorong diterimanya amal, baik oleh Allah maupun di dunia. Salah satu contoh, Imam Nawawi, menuliskan banyak buku yang mendapatkan penerimaan yang sangat luas, antara lain Arbain yang padahal sudah pernah ada yang menuliskannya sebelumnya. Konon hal ini disebabkan karena tingginya keikhlasan beliau.

Jika kita melakukan perbuatan tanpa keikhlasan, bisa jadi kita tidak mendapatkan apapun di dunia, juga tidak mendapatkan apapun di akhirat. Alangkah meruginya.

Indikasi riya antara lain kita takut dilihat dilihat orang dalam melakukan sesuatu. Jika kita ikhlas, ada ataupun tidak ada orang tidak mempengaruhi perbuatan kita.

Dalam ikhlas, hati hanya fokus kepada Allah. Segala yang selain Allah tidak dianggap, tidak ”direken”. Karena itu, keikhlasan hanya dapat ditangkap oleh hati merasakan kebesaran Allah.

Mata fisik hanya dapat menangkap yang ”paling”. Sebagai contoh, jika disandingkan antara Bajaj dan Mercedes Benz, maka mata kita akan memilih salah satu yang paling, dan biasanya adalah yang paling hebat, yaitu dalam hal ini Mercedes Benz.

Demikian juga dengan hati. Hati hanya fokus pada yang ”paling”. Jika kita belum dapat membayangkan Allahu Akbar, di hati ada orang yang kita anggap hebat selain Allah, maka tindakan kita bisa jadi akan dimaksudkan kepada orang tersebut. Kita menjadi riya kepadanya.

Jika orang ikhlas : setan gak akan menyentuhnya. Ini harus terus dijaga dengan ma'rifatullah.

Sifat ikhlas dalam banyak hal bertentangan dengan kapitalisme, yang sering diwarnai dengan sikap pamrih. Di masa sekarang, rasanya tiada tindakan tanpa motif dunia. Orang yang baik tanpa kepentingan, menjadi terasa aneh.

Dalam kerja pun, definisi kerja ikhlas harus jelas. Apa motif kita dalam bekerja? Jika kita mengatakan bahwa kerja adalah ibadah, maka kita harus ikhlas. Sudahkah kita ikhlas?

Pada budaya kerja saat ini di mana orang diharapkan menonjolkan diri, menjual diri, menunjukkan kemampuan, agar terlihat oleh atasan, dapat terjebak dan memberikan ruang untuk riya. Bahkan untuk kerja yang dilakukan atas nama dakwah.

Untuk itu, memang diperlukan kesungguhan batin yang terus menerus.

Tindakan yang tidak diikhlaskan, tidak dihargai oleh Allah SWT, bahkan bisa membawa masuk neraka.

Sebagai contoh, membaca Qur'an adalah ibadah sunnah. Jika kita tidak melakukan maka kita tidak berdosa. Tetapi jika kita melakukan dengan riya, maka kita dapat menjadi berdosa.

Maka mereka yang sudah rajin beribadah, sudah masuk ke wilayah ibadah sunnah. Pastikan kita sudah masuk ke wilayah ikhlas. Agar ibadah yang kita lakukan tidak menjadi petaka.

Apakah lalu kita lebih baik berhenti melakukan ibadah sunnah?
Tentunya tidak! Hal ini bukan dimaksudkan agar kita berhenti melakukan ibadah sunnah, akan tapi untuk memaksimalkan ibadah kita.

2. Hidup Bahagia

Ikhlas adalah karunia dari Allah. Dan mereka yang ikhlas akan memperoleh ketentraman dan ketenangan dalam hidup. Hidup menjadi tentram karena terbebas dari pamrih dan riya.

Biaya riya sesungguhnya sangat mahal. Demi gengsi dan kesan dari orang lain, kita rela menghabiskan banyak uang untuk memilih tempat makan yang bergengsi, memilih baju yang mahal.

Orang yang ikhlas memiliki fleksibilitas hidup yang tinggi. Kondisi di bawah maupun di atas tetap dapat dijalani dengan tentram.

Masalah orang di jaman sekarang : ingin disebut xxx, takut disebut xxx. Hal ini menjadikan kehidupan tidak tentram.

Orang ikhlas hidup tentram, hidup sesuai dengan kemampuannya

3. Ikhlas kepada Allah mendorong kebaikan

Salah satu sebab berhentinya orang melakukan kebaikan adalah ketika apa yang menjadi pamrihnya tidak ia peroleh. Ia berharap pada pujian, tanggapan, apresiasi orang, yang ketika tidak didapatkan, mengakibatkan kekecewaan, yang akhirnya membuatnya berhenti berbuat baik.

Jika tujuan kita hanya kepada Allah, kita akan terus berbuat baik, dan terus berbuat baik, karena kita tidak memerlukan tanggapan dari orang lain.

No comments:

Post a Comment