Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Thursday, February 17, 2011

Ketika Musim Madu Tiba (Bagian 4 dari 4 Tulisan)

Ketujuh, masalah populasi penduduk.

Sensus penduduk menyatakan bahwa jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Dan kabarnya, memang jumlahnya itu sekitar 4 : 1.

Kalau kita lihat di sekitar, makin banyak perempuan-perempuan yang masih melajang di usia 30, 40, bahkan 50 tahun, bahkan sampai akhir hidupnya.

Setiap 1 suami kita, sebenarnya ada 3 perempuan lain, yang sebenarnya berhak juga atas suami kita itu. Alangkah kasihannya 3 perempuan lain itu, yang sebenarnya bisa jadi istri dari suami kita, tapi harus hidup melajang seumur hidupnya, hanya karena kita tidak mau berbagi.

Kedelapan, mari berpikir rasional.

Saya mungkin termasuk jenis perempuan yang terlalu rasional, sehingga tidak terlalu memikirkan masalah perasaan. Hehe, untuk masalah perasaan pun saya gunakan kata “memikirkan”.

Menurut saya, seharusnya kita jangan terlalu ”mengutamakan” perasaan. Perasaan harus bisa kita kendalikan. Bahagia dan sedih sebenarnya tinggal kita mengatur harapan dan persepsi. Jika kita turunkan harapan dan ubah persepsi, hidup kita bisa kita buat agar senantiasa bahagia.

Mungkin sebagian akan berkata, bicara saja sih gampang, coba jalani sendiri, bisa nggak? :-)

Ya, memang saya belum menjalani, maka seperti yang saya sampaikan di awal, ini adalah prinsip saya, dan saya berharap Allah senantiasa memberikan bimbingan dan perlindungan-Nya kepada kita semua.

Terakhir berikut dua tanya jawab fikih berkaitan dengan poligami, sesuai dengan yang disampaikan Ibu Ustadzah Herlini Amran di pengajian kantor saya beberapa waktu yang lalu.

Tanya :
Apakah suami yang akan menikah lagi harus minta izin kepada istri pertamanya.

Jawab :
Secara hukum, tidak perlu. Tanpa suami minta izin pun, pernikahan tersebut sah. Jika suami minta izin, lalu istri tidak mengizinkan, pernikahan tersebut sah.
Dalam hal ini lebih kepada masalah hubungan kemanusiaan, hubungan sosial, bahwa lebih baik jika istri pertama mengetahui ketika suaminya akan menikah lagi.

Tanya :
Apakah boleh istri meminta cerai ketika suaminya menikah lagi?

Jawab :
Tidak boleh. Suami menikah lagi tidak bisa menjadi alasan seorang istri untuk meminta cerai. Yang dibolehkan adalah meminta cerai jika suami terbukti menelantarkan, menzhalimi.

Demikian tulisan kali ini, semoga bermanfaat :-)

Ketika Musim Madu Tiba (Bagian 3 dari 4 Tulisan)

Keempat, prinsip cinta dalam hidup.

Seharusnya kita punya urutan prioritas cinta dalam hidup, agar kita dapat hidup secara terarah, dan semua tujuan hidup tercapai sesuai peruntukannya.

Yang ideal, urutan cinta itu adalah pertama Allah, kedua Rasulullah, ketiga baru suami. Baru selanjutnya anak dan orang tua. Baru setelah itu hal-hal lain, seperti hobi saya berkebun misalnya :-)

Jika kita sudah letakkan Allah di urutan pertama, maka apa pun ketetapan Allah atas orang-orang yang kita cintai di level berikutnya akan kita terima dengan lapang dada.

Kelima, keyakinan bahwa Allah Maha Adil.

Beberapa yang kurang setuju dengan poligami biasanya mengungkapkan kasus-kasus di mana ada suami yang benar-benar berlaku tidak adil, dan menyengsarakan istri pertama dan anak-anaknya.

Saya tidak memungkiri bahwa hal ini memang kerap terjadi. Dan saya sangat tidak setuju jika poligami terjadi dengan kondisi seperti ini. Dan saya sangat sedih membayangkan istri pertama yang diperlakukan demikian.

Namun, saya yakin Allah pasti berlaku adil. Andaikata nanti Allah mentakdirkan suami saya menikah lagi, saya yakin dia akan berlaku adil dan tidak menelantarkan kami. Kalaulah ternyata nanti suami saya khilaf, lalu berlaku buruk, maka saya yakin Allah akan membantu saya menjalani itu semua dengan baik.

Keenam, mari kita melihat ke sisi positifnya :-)

Haah? Dimadu ada sisi positifnya? Seharusnya ada. Kalau tidak, tentunya tidak ada kisah poligami yang berjalan mulus, yang pada kenyataannya ada.

Dengan adanya istri kedua, kita jadi punya ”partner” dalam berinteraksi dengan suami kita. Sebagian mungkin akan segera menyergah ”Please deh, saya nggak perlu partner untuk hal itu, saya bisa kerjakan sendiri semua dengan baik!”

Hehe, silakan jika berpikir demikian. Namun sebenarnya, jika ada partner, kita bisa mendiskusikan berbagai hal, sehingga ditemukan berbagai solusi terbaik untuk berinteraksi dengan suami. Kita bisa berbagi tugas, berbagi pengalaman dalam mengurus rumah tangga, mengurus anak. Sepertinya cukup menyenangkan ya?

Dalam hal ini mungkin ada juga kasus-kasus buruk, ketika istri kedua memang memiliki maksud buruk, seperti misalnya menguasai seluruh harta suami.

Sekali lagi, saya tidak memungkiri bahwa hal ini memang kerap terjadi. Dan saya sangat tidak setuju jika poligami terjadi dengan kondisi seperti ini. Dan saya sangat sedih membayangkan ada istri kedua yang tega berlaku demikian.

Namun, saya berharap Allah berlaku adil. Andaikata nanti Allah mentakdirkan suami saya menikah lagi, semoga dia mendapatkan istri kedua yang baik. Kalaulah ternyata istri kedua itu buruk, maka saya yakin Allah akan membantu kami semua menjalani itu semua dengan baik.

Sementara sampai di sini dulu, bersambung ke tulisan berikutnya.

Ketika Musim Madu Tiba (Bagian 2 dari 4 Tulisan)

Kita masuk ke pembahasan tentang masalah adil.

Ada ayat dalam Al Qur’an yaitu pada surat An Nisa 129 yang menyatakan bahwa ”Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup berlaku adil di antara istri-istri kamu walaupun kamu sangat ingin berlaku demikian”.

Sebagian orang memaknai bahwa ayat ini ”bertentangan” dengan ayat 21 tadi, sehingga mereka menganggap bahwa Al Qur’an sendiri menentang poligami.

Namun, dari yang saya dengar tentang tafsir atas kedua ayat itu, terminologi adil dalam dua ayat tersebut sedikit berbeda.
Adil pada ayat 4, merujuk kepada adil secara fisik. Dalam hal ini adalah masalah pembagian harta dan waktu. Sehingga dalam hal ini, adil sangat bisa dihitung, dikuantifikasi, ditetapkan. Walaupun lebih jauh lagi, untuk masalah harta, bisa ada perbedaan pendapat apakah harus sama persis atau proporsional. Tetapi hal ini juga bisa disepakati.

Sedangkan adil pada ayat 129, merujuk kepada adil dalam hati. Dalam hal ini memang sangat sulit untuk dilakukan, karena kecenderungan hati adalah hal yang sering kali sulit untuk dikendalikan.

Kedua, yaitu adanya janji surga bagi perempuan yang bersedia dimadu.

Saya masih mencoba mencari, apakah ada landasan yang sahih untuk pernyataan ini.

Namun, jika hal ini benar, maka ini adalah kesempatan emas yang sangat sayang untuk disia-siakan. Bagaimana tidak. Dengan berbagai amal yang sudah kita lakukan, kita sama sekali tidak tahu pasti, apakah Allah meridhoinya, dan akan memasukkan kita ke surga-Nya.

”Hanya” dengan merelakan suami kita menikah lagi, kita diberikan surga. Surga abadi, sampai akhir zaman. Apalah artinya dimadu ”sebentar” di dunia, dibandingkan dengan indahnya surga yang abadi. Dan bisa jadi, kehidupan dimadu itu tidak separah yang kita bayangkan.

Ketiga, berkaitan dengan prinsip kepemilikan.

Harus kita yakini bahwa segala sesuatu yang Allah berikan pada kita adalah sekedar titipan. Bukan benar-benar milik kita. Apa yang menjadi milik kita di satu waktu adalah baju yang kita pakai, makanan yang telah kita makan, dan tempat kita bernaung saat itu. (Saya harus cek lagi, landasan dari pernyataan ini).

Kapan pun kita harus siap jika ”milik” kita itu diambil oleh Allah. Kalau diambil saja siap, harusnya sekedar ”dibagi” ataupun ”dipinjam”, kita juga siap. Kalau untuk barang kita siap, harusnya untuk makhluk ”suami” pun kita siap.

Sementara sampai di sini dulu, bersambung ke tulisan berikutnya.

Ketika Musim Madu Tiba (Bagian 1 dari 4 Tulisan)

Sejak sebelum menikah, saya berprinsip bahwa saya bersedia jika suami saya akan menikah lagi. Sampai sekarang setelah saya menikah, saya masih memiliki prinsip yang sama.

Bagi kebanyakan perempuan, prinsip saya ini mungkin dirasa sangat tidak masuk akal, aneh, lebay, sok tau bahkan mustahil. Hehe, silakan kalau ibu-ibu berpikiran demikian, saya tidak dalam posisi memaksa atau mengharuskan ibu-ibu mengikuti prinsip saya. Mungkin memang saya aneh, lebay, sok tau, sok jago :-)

Tapi kalau boleh, saya akan coba jelaskan kenapa saya punya prinsip seperti itu. Baru saja kemarin saya baru saja terlibat obrolan dengan teman-teman kuliah dan mereka menanyakan lagi prinsip saya ini dan saya jadi tergerak untuk membuat tulisan ini.

Di akhir saya coba tambahkan tentang fikih berkaitan dengan poligami, yang saya dapatkan dari ustadzah di kantor pada pengajian beberapa waktu yang lalu.

Oya, sekali lagi, ini adalah prinsip dan teori yang saya usahakan agar menjadi keyakinan saya di dalam hati. Saya sama sekali belum pernah menjalani kehidupan poligami, baik sebagai istri maupun sebagai anak. Sehingga jika ada pengalaman dari ibu-ibu sekalian yang bisa memperkaya tulisan ini, tentunya akan sangat bermanfaat.

Kita mulai ya.
Paling tidak ada 8 hal yang menyebabkan saya siap untuk dimadu.

Pertama, masalah poligami ada di dalam Al Qur’an.

Mungkin sudah banyak yang hafal juga ya suratnya, yaitu An Nisa ayat 4.
Dalam ayat itu Allah memperbolehkan laki-laki untuk memiliki istri 2, 3, bahkan 4. Tetapi jika dirasa tidak mampu untuk berlaku adil, maka Allah perintahkan untuk menikah dengan 1 orang wanita saja.

Mengenai adil, nanti saya bahas belakangan ya :-)

Apa pun yang ditulis dalam Al Qur’an sebenarnya merupakan kebenaran yang pasti, yang harus kita ikuti. Kita dengar, kita ikuti, sami’na wa atho’na. Bagaimana tidak. Al Qur’an dibuat oleh Dia yang membuat kita. Al Qur’an adalah “manual book” untuk “pengoperasian” kita. Apa yang diaturkan Allah di sana pastilah memang sudah sesuai dengan “kapasitas” kita.

Lebih spesifik pada masalah poligami, jika Allah tuliskan laki-laki boleh menikah 2, 3, atau 4, maka ”semestinya” memang akan ada laki-laki yang merasa perlu, atau berpotensi, atau harus menikah dengan 2, atau 3, atau 4 perempuan. Dan di sisi lain, ”semestinya” ada perempuan yang bersedia suaminya menikah lagi, menjadi istri ke-2, ke-3, atau ke-4.

Sementara di sini dulu, disambung lagi ke tulisan berikutnya ya..

Tuesday, January 11, 2011

Blackberry-ku Untuk-Mu

Beberapa hari terakhir ini sedang ramai pembahasan rencana blokir RIM dan Blackberry oleh Menkominfo, beserta serentetan pro kontranya.

Saya tidak akan membahas pemblokiran itu :-)

Blackberry sekarang sudah seperti jadi “daging tumbuh” yang selalu kita bawa ke mana-mana. Bahkan ke toilet pun ada sebagian (besar) orang yang membawanya :-)
Nah, alangkah indahnya kalau Blackberry yang selalu kita bawa itu bisa digunakan untuk hal yang bermanfaat dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.

1. Install Al Qur’an.
Link-nya http://www.guidedways.com/mobile/uquran/mobile_quran_reciter.php
Sebaiknya tidak ada hari tanpa membaca Al Qur’an. Maka, dengan adanya Al Qur’an di Blackberry, kita bisa baca Al Qur’an kapan saja dan di mana saja. Bagi yang sedang menghafalkan Al Qur’an, aplikasi ini juga sangat membantu. Walaupun letaknya tidak sama dengan Al Qur’an pojok, tetapi bisa dimanfaatkan untuk mengingat di saat kita memerlukan.

2. MP3 Murratal Al Qur’an.
Agar telinga kita terbiasa dengan Al Qur’an, dengan MP3 Murratal Al Qur’an ini, kita bisa sering-sering mendengar murratal Al Qur’an, yang insya Allah juga sangat membantu untuk yang menghafal.

3. Aplikasi pengingat waktu shalat.
Saya sendiri nggak pasang aplikasi ini, nggak muat memorinya :-)
Akhirnya saya hanya save saja link bookmark waktu adzan, yang bagus sekali, selalu di-update : http://www.pkpu.or.id/adzan.lite.php?id=83

4. Twitter. Tapi kita harus pilih orang yang kita follow, agar kita hanya mengikuti tweet yang bermanfaat. Facebook, saya tidak install, karena facebook lebih banyak untuk ngobrol-ngobrol ngalor ngidul, yang bisa kita lakukan kapan-kapan via web.

5. Alarm dan reminder untuk berbagai target dan rencana kita. Misalnya, rencana untuk menghafal Al Qur’an, membaca doa pagi dan sore, rencana untuk puasa sunnah, dan alarm untuk bangun pagi.

6. Mencatat muhasabah diri.
Setiap hari kita bisa catat apa saja amalan rutin yang kita sudah kita lakukan setiap hari, dan melakukan evaluasi perbaikannya.

7. Mencatat ceramah yang kita hadiri.
Kadang kita hadir ke pengajian, tetapi lupa tidak membawa catatan, padahal materinya sangat bagus. Dengan Note di Blackberry, kita bisa langsung catat, dan nantinya bisa segera di-copy paste ke email, blog, dan sebagainya.

Subhanallah, sebenarnya banyak sekali manfaat dari Blackberry untuk mendekatkan diri pada Allah yaa.. Semoga kita bisa mengoptimalkannya dan dijauhkan dari penggunaan yang sia-sia.. :-)

Tuesday, June 29, 2010

Mudik Lebaran, Haruskah?

Dua bulan lagi Lebaran tiba.

Dan di sekitar hari Lebaran itu, kita akan mengalami lagi peristiwa nasional yang menghebohkan seluruh negeri : mudik.

Seluruh jalur transportasi akan dilipatgandakan kapasitasnya di masa mudik ini. Berbagai departemen dan perusahaan juga harus melaukan antisipasi untuk mudik. Dan tentunya mendapatkan keuntungan dari para pemudik tersebut.

Bagi mereka yang selama ini tinggal di perantauan, maka merekalah yang sibuk bersiap-siap mudik. Jika perjalanan menggunakan transportasi umum, maka perlu dilakukan pemesanan tiket jauh-jauh hari. Jika menggunakan kendaraan sendiri, maka perlu pemeriksaan kendaraan agar selamat di perjalanan. Untuk para handai taulan perlu persiapan oleh-oleh. Dan untuk semua itu, perlu biaya.

Bagi mereka yang sehari-hari sudah berada di kampung halamannya, maka mereka tidak ikut sibuk. Tapi, biasanya tetap terkena imbas, karena pembantulah yang pulang kampung. Dan daripada repot, biasanya disewalah pembantu pengganti. Biaya juga.

Kapan persiapan itu dilakukan? Tentunya menjelang bulan Syawal, di bulan Ramadhan, bahkan mungkin sejak bulan Sya'ban. Persiapan intensif, seperti belanja oleh-oleh, biasanya dilakukan di minggu-minggu terakhir Ramadhan.

Dan kapan biasa mudik mulai dilakukan? Karena mudik adalah untuk bersilaturrahim di hari Lebaran, maka berangkat biasanya di hari-hari terakhir bulan Ramadhan.

Sebenarnya bagaimana cara mengisi Ramadhan dan Lebaran yang dicontohkan Rasulullah SAW?

Pada beberapa kisah beliau digambarkan, bahwa bahkan sejak bulan Rajab, Rasulullah sudah mulai mengintensifkan ibadah termasuk puasa sunnah. Di bulan Sya'ban, Rasulullah begitu seringnya berpuasa, sampai hampir-hampir seperti pada bulan Ramadhan.

Dan di bulan Ramadhan, seluruh kegiatan dipusatkan pada ibadah. Terutama di 10 hari terakhir, di mana Rasulullah melakukan I'tikaf di masjid.

Bagaimana jika dibandingkan dengan kita yang sibuk mempersiapkan dan melakukan mudik? Rasanya akan menjadi sulit mencontoh Ramadhan Rasulullah.

Bagaimana kita dapat fokus beribadah jika harus disibukkan dengan membuat kue dan menyusun daftar oleh-oleh? Bagaimana kita bisa beritikaf, menghabiskan waktu bersama Al Qur'an di masjid-masjid Allah, jika kita sedang berada di perjalanan yang sangat macet?

Mungkin perlu dievaluasi lagi apakah memang kita harus mudik di hari Lebaran.

Kan silaturrahim? Silaturrahim dapat dilakukan kapan saja. Rasanya sama sekali tidak ada hubungannya antara Idul Fitri dan silaturrahim.

Kan di hari Lebaran semua keluarga bisa bertemu secara bersamaan? Sebenarnya ini juga bisa diatur. Cari saja jadwal pertemuan keluarga besar secara bersamaan. Semua cuti di jadwal tersebut. Biaya lebih murah, perjalanan lebih tenang karena tidak macet. Dan di bulan Ramadhan kita bisa fokus dengan ibadah.

*sekedar pemikiran yang semoga menginspirasi :-)

Monday, May 11, 2009

Sedekah Pagi

Bersedekah sebenarnya adalah kebutuhan bagi kita. Untuk muslim malah ada hadis yang menyatakan bahwa :
"Setiap pagi ada dua malaikat yang datang kepada seseorang, dimana yang satu berdoa : 'Wahai Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menafkahkan hartanya', dan malaikat yang lain berdoa 'Wahai Allah, binasakanlah harta orang yang kikir'". HR. Bukhori, Muslim

Dari hadis di atas, balasan dari bersedekah sangat besar, dan jika kita tinggalkan, dahsyat juga akibatnya. Masalahnya, bagaimana caranya supaya setiap pagi bisa rutin bersedekah? Rasanya sulit juga kalau setiap pagi harus mencari-cari orang untuk diberi sedekah.

Naaah untuk itu mungkin bisa dicoba beberapa pilihan caranya berikut..

Pertama, buat celengan/kencleng sedekah. Manajemen Qolbu-nya Aa Gym dan PKPU pernah membuat celengan seperti ini, bisa diambil di sana. Atau bisa juga menggunakan celengan apa saja yang memang dikhususkan untuk sedekah. Kita bisa letakkan di rumah, di kantor, di lokasi yang kita pasti lewati di pagi hari, dengan membawa dompet tentunya, hehe.. Kalau di rumah bisa di dekat meja makan, di dapur, di dekat kamar, di dekat kamar mandi, atau di dekat pintu ke luar rumah, atau bisa juga di mobil (untuk yang ke kantor naik mobil). Untuk di kantor, bisa diletakkan di meja kerja, atau di dalam laci meja kerja.

Ada baiknya celengan tersebut bisa dibuka tutup, jadi jika pada suatu waktu ada yang membutuhkan, dana sedekah tersebut dapat langsung dialokasikan. Tapi jangan diambil buat bayar pesanan mie ayam atau somay ya.. hehe..

Solusi kedua, jika belum ada celengan atau celengan dirasa terlalu menyolok, bisa disiapkan amplop khusus. Amplopnya bisa disimpan di tas, lemari, atau laci, dan setiap pagi kita sedekahkan dana ke sana.

Solusi ketiga, kalau amplop juga dirasa kurang praktis, karena kadang-kadang bisa juga tertinggal, alokasi bisa langsung dilakukan di dompet kita sendiri. Maksudnya? Begini, uang sedekah tersebut tetap diletakkan di dalam dompet, tetapi dibuat terpisah dari uang yang kita gunakan sehari-hari. Kalau memang di dompetnya ada sekat-sekat terpisah, bisa dialokasikan satu sekat khusus untuk uang sedekah. Kalau tidak ada sekat-sekat, bisa ditandai berbeda. Misalnya khusus uang sedekah dilipat dan diletakkan di sisi tertentu. Jangan sampai tertukar yaa, hehe..

Kemudian, bagaimana penyaluran uang sedekah tersebut? Pertama, kalau ada yang membutuhkan, misalnya ada pengemis, peminta sumbangan, bisa langsung disampaikan. Atau kalau ada kotak sedekah yang kita temui. Atau bisa juga disampaikan via transfer ke rekening-rekening pengelola dana bantuan seperti
Dompet Dhuafa, Aksi Cepat Tanggap, BAZIS, PKPU, dan lain-lain.

Solusi keempat, adalah sedekah yang tidak melalui uang tunai, yaitu dilakukan melalui SMS Banking atau Internet Banking, atau SMS sedekah yang bisa dilakukan langsung melalui HP. Dengan cara ini, kita bisa langsung transfer setiap pagi ke ke rekening-rekening pengelola dana untuk kemudian disalurkan ke yang membutuhkan.

Insya Allah ada jalan jika memang kita berniat, mudah-mudahan Allah memudahkan. Selamat mencoba dan semoga Allah memberikan ganti yang berlipat ganda, baik di dunia maupun di akhirat nanti.