Showing posts with label manajemen hati. Show all posts
Showing posts with label manajemen hati. Show all posts

Sunday, March 6, 2011

Wahai Ibu, Kuatlah!

Kemarin anak saya yang kelas 3 dan 5 SD ada acara menginap di sekolah.

Saya selalu sangat gembira menyambut acara ini. Anak-anak belajar mandiri dan mengelola berbagai keperluannya sendiri. Hidup bersama teman dan guru, terpisah dari orang tua yang senantiasa membantu.

Dan yang paling saya suka adalah mereka belajar hidup dalam lingkungan yang tertata secara Islam. Shalat pada waktunya secara berjamaah dan shalat tahajjud.

Dalam beberapa kali acara mabit ini, saya kemungkinan termasuk ibu yang paling cuek. Saya lepaskan mereka pagi hari di rumah berangkat dengan supir, dengan segala perlengkapan menginap. Lalu saya jemput lagi keesokan paginya.

Sedangkan ibu-ibu lain terlihat cukup heboh, mengkhawatirkan bagaimana nanti mereka mandi, apakah mereka memakai baju tangan panjang ketika kegiatan malam, apakah boleh ditengok sesering mungkin, dan sebagainya, dan sebagainya :-)

Sedangkan "intervensi" saya yang paling jauh adalah mengirimkan SMS kepada guru, memastikan anak saya baik-baik saja. Saya belum pernah sampai menengok mereka di sekolah, apa lagi sampai beberapa kali dalam semalam.

Namun itu bukan berarti saya tidak sayang, tidak peduli dengan keadaan anak-anak saya. Justru saya menyayangi mereka dengan memberikan kepercayaan. Saya percaya bahwa mereka bisa mandiri, bahwa mereka bisa mengatur diri sendiri, bisa memutuskan mana yang terbaik untuk mereka dalam skala menginap semalam.

Dan bagi saya, persoalan-persoalan yang dihadapi justru merupakan latihan bagi mereka menghadapi hidup. Bahwa segala sesuatu tidak selalu berjalan mulus.

Bahwa antri untuk mandi memang kadang-kadang terjadi, dan harus dinikmati. Bahwa baju-baju kotor harus dilipat dan dimasukkan ke plastik agar tidak mengotori baju bersih. Bahwa handuk basah harus dipisah dengan baju kering. Bahwa tidur di lantai di ruangan ber-AC itu dingin, dan mereka harus menggunakan kantong tidurnya. Bahwa walaupun ada teman yang berisik, kita harus mencoba untuk tidur.

Bagi saya menginap semalam ini adalah tahap persiapan untuk kemandirian berikutnya. Menginap bermalam-malam, kos, atau sekolah di pesantren. Dan itu tidak lama lagi. Jika dimulai di SMA, untuk anak saya yang kelas 5 SD, artinya 4 tahun lagi. Jika dimulai ketika kuliah, artinya 7 tahun lagi.

Dan finalnya, hidup mandiri selamanya. Juga tidak lama lagi, 12 tahun lagi saja.

Maka, ayolah Ibu, kuatlah. Lepaskan anakmu. Agar dia menjadi manusia yang mandiri, bisa menyelesaikan persoalannya sendiri.

Kita berpacu dengan waktu. Jangan biarkan rasa sayang kita justru menjadi belenggu bagi kemandirian mereka. Kita tidak mungkin akan bisa mendampingi mereka selamanya. Dan juga dalam kondisi yang belum bisa sama sekali kita bayangkan.

Kuatlah Ibu, agar anakmu menjadi manusia yang kuat.

Menghadapi Takdir Perubahan

Jumat lalu, pengajian di kantor diisi oleh Ustadzah Herlini Amran, dengan topik "Takdir Perubahan", berikut sedikit catatan saya, semoga bermanfaat : -)

Al An'am ayat 59 :
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Sesungguhnya segala sesuatu terjadi pasti Allah ketahui dan hanya dapat terjadi karena kehendak Allah.

Termasuk juga perubahan.

Dalam hidup perubahan adalah keniscayaan.Yang penting dalam Islam adalah bagaimana kita menyikapi.

Perubahan yang paling dahsyat adalah kehilangan nyawa, terutama orang yang selama ini selalu bersama kita. Pada perubahan lain, seperti perubahan dalam pekerjaan, pindah lokasi tugas, bahkan pensiun dini pun, kita masih memiliki pilihan.

Begitu dahsyatnya perubahan, Allah menurunkan banyak surat makiyyah, dengan ayat-ayat tentang perubahan. Agar manusia memikirkan dan memaknai perubahan. Dari yang dulu jahiliyah menjadi dalam petunjuk Allah.

Kita harus hati-hati dan sungguh-sungguh dalam menghadapi perubahan. Jangan lalai dan lengah, karena setan selalu mencari peluang untuk bermain.

Segala kejadian yang terjadi pada kita, secara umum disebut takdir.

Terdapat dua macam takdir.

Yang pertama adalah takdir mubrom. Yaitu takdir yang harus kita terima, yang ditetapkan dalam wewenang Allah.

Yang kedua adalah takdir muallaq. Yaitu takdir yang ditentukan oleh pilihan kita. Pilihan yang sudah kita pilih itulah yang menjadi takdir kita.

3 hal penting dalam menghadapi takdir :

1. Ikhlas, bahwa pilihan yang akan kita pilih adalah sudah Allah berikan yang terbaik. Ikhlas dilakukan bukan diucapkan.

2. Sabar, identik dengan ketabahan, keuletan, kegigihan, teguh pendirian, konsistensi. Tetap berusaha barangkali ada yang bisa kita ubah.

3. Syukur, bahwa dibandingkan dengan yang lain, sesungguhnya yang kita alami jauh lebih baik.

4. Doa, karena doa dapat mengubah takdir.

Jika kita menerima sesuatu yang tidak disukai, jangan pernah ucapkan "seandainya".
Yakinlah bahwa, "Ini takdir Allah, apa yg Allah kehendaki pasti terjadi".
Ucapkan, "Qadarallah, wa ma sya'a fa'ala"

Menerima segala kejadian adalah bagian dari rukun iman, yaitu beriman kepada qadha dan qadar, sehingga merupakan ujian bagi tingkat keimanan kita. Hati-hati karena syetan dapat masuk untuk menggoda, membuat kita berselisih, tidak syukur, atau tidak sabar. Dan hal ini berlaku juga untuk hal yang kecil, kejadian sehari-hari dalam hidup kita, seperti salah memilih jalan ternyata macet.

Dalam takdir muallaq, setelah kita pilih itulah yang menjadi takdir kita.

Yang harus juga diingat, takdir melalui proses dan hasil, hukum sebab akibat. Misalnya, kita meminta mangga, maka kita harus berusaha menanam mangga, dan merawatnya. Hasilnya, bisa berhasil atau gagal, itu adalah takdir.

Yang diperintahkan Allah kepada kita adalah beramal, berbuat, usaha, bergerak, beraktivitas. Hasilnya, serahkan pada Allah.

Apa yang menimpa bagi orang beriman pasti baik baginya. Jika baik ia bersyukur, jika buruk ia bersabar.

Harus diyakini bahwa hikmah pasti ada. Segala sesuatu bergantung bagaimana prasangka kita pada Allah. Kita harus berpandangan positif. Hindari hal negatif agar takdirnya tidak negatif.
Harus kita yakini bahwa apapun yang terjadi adalah yang terbaik bagi kita.

Usia, sudah Allah takdirkan. Namun, kita tidak mengetahui berapa takdir usia kita itu. Maka, kita harus terus berusaha. Karena tidak ingin takdir buruk, kita berdoa yang baik. Kita melakukan silaturahim dapat memperpanjang umur, memperbanyak rezeki. Kita mengikuti petunjuk kesehatan untuk memperpanjang umur, karena selalu ada hukum sebab akibat.
Tugas kita menjaga agar terjadi sebab-sebab yang baik, tetapi apa yang akhirnya Allah berikan, itulah yang menjadi takdir kita.

Jika kita tidak menerima takdir, jiwa bisa terganggu, stress.
Kita sebaiknya senantiasa berdoa , "Allahumma inna naudzubika min su'I'll qada".
Yang artinya, "Ya Allah hindarkan aku dari takdir yang buruk".

Membandingkan dengan orang lain diperbolehkan, dalam konteks berlomba dalam kebaikan. Bukan membandingkan dalam takdir untuk menyesali.

Salah satu cara mengubah takdir adalah bertawassul dengan amal kita. Memohon dengan mengandalkan amal soleh kita. "Ya Allah, aku telah bersedekah dengan ikhlas, berikanlah aku kemudahan dalam urusan ini". Dengan tawassul ini, di dunia kita memperoleh balasan, insya Allah juga di akhirat.

Wednesday, February 23, 2011

Ujian Ikhlas

Dalam bahasa Indonesia, ikhlas didefinisikan sebagai rasa tulus, tanpa pamrih, tanpa mengharapkan balas jasa dan penghargaan. Biasanya dalam percakapan, sering diucapkan, "Bener nih, ikhlas ya?", dan jawabannya, "Iya bener kok, saya ikhlas."

Dalam Islam, definisi ini cukup relevan, hanya perlu sedikit tambahan. Yaitu, rasa tulus, tanpa pamrih, tanpa mengharap balas jasa dan penghargaan dari sesama manusia. Rasa bahwa kita melakukan sesuatu hanya untuk Allah, hanya mengharapkan ridha-Nya. Jika dilandasi dengan ikhlas, kita melakukan sesuatu karena yakin hal itu adalah hal yang benar, yang akan membawa kita kepada ridha Allah.

Karena itu, dalam konteks ikhlas dalam Islam, pertanyaan tadi, "Bener nih, ikhlas ya?" akan menjadi pertanyaan yang tidak perlu dijawab, karena jika kita benar-benar ikhlas, melakukan itu karena Allah, bagi kita hanya Allah yang perlu mengetahui kepastiannya.

Dengan landasan ikhlas, kita tidak memerlukan apresiasi dari siapa pun. Reaksi orang lain, baik itu memuji ataupun mencela, menyalahkan atau membenarkan, tidak mempengaruhi keberlanjutan apa yang kita lakukan.

Pujian dan apresiasi cukup dibalas dengan ucapan terima kasih, sebagai penghargaan atas kebaikan hati orang itu. Tetapi dalam hati kita, pujian itu dikembalikan kepada Allah, yang telah membimbing kita selama melakukan hal tersebut. Segala puji hanya bagi-Nya.

Kritik dan celaan diterima tidak menjadikan kita frustasi, tetapi kita anggap sebagai masukan bahwa memang masih banyak hal yang perlu diperbaiki.

Kita tidak akan pernah merasa putus asa, karena kita berorientasi pada proses, hasil akhir bukan di dunia, kita selalu masih bisa melakukan sesuatu.

Kita juga tidak akan pernah menuntut. Tidak akan ada ucapan, "Aku kan sudah buat ini, harusnya kamu begini dong". Kalaupun kita meminta seseorang melakukan sesuatu, tidak lain adalah untuk kebaikan orang itu sendiri.

Kita tidak akan pernah merasa kecewa di dunia, karena memang kita tidak mensasar suatu target. Target di dunia kita jadikan standar kualitas proses, semata-mata untuk memastikan bahwa kita telah melakukan hal yang benar secara hukum alam di dunia.

Namun, ikhlas bukan berarti pasrah dan tidak produktif. Ikhlas justru membuat seseorang ingin terus beramal, berkarya, untuk Dia yang diharapkan ridha-Nya.

Segala reaksi yang terjadi atas apa yang kita lakukan di dunia, hanya kita masukkan ke zona rasio. Jika reaksinya baik artinya kita bisa lanjutkan proses tersebut. Jika reaksinya kurang baik, maka kita cari solusi untuk perbaikan.

Segala reaksi tersebut tidak kita masukkan ke zona hati. Reaksi baik tidak menimbulkan rasa bangga, apa lagi sombong. Reaksi buruk tidak menimbulkan rasa kecewa, apa lagi frustasi dan putus asa.

Karena yang terpenting adalah jangan sampai kita kecewa di akhirat nanti. Di hari ketika segala upaya tidak bisa kita lakukan lagi. Di hari ketika segala upaya kita akan dinilai. Di hari pembuktian apakah Allah ridha dan berkenan dengan apa yang telah kita persembahkan pada-Nya selama hidup kita.

Hanya itu yang sebenarnya menjadi sasaran seluruh hidup kita. Hanya itu.

Wednesday, December 22, 2010

Ikhlas - Rukun & Tips

Lanjutan tulisan sebelumnya, dari pengajian dzuhur Ust. Muhsinin Fauzi tentang ikhlas. Semoga bermanfaat.

3 rukun ikhlas :

1. Satu tujuan : Allah

Sepanjang perbuatan, awal, sepanjang, akhir. Seringkali orang fokus di awal tetapi tergelincir di akhir.

Sebagai contoh, orang yang berniat berangkat haji. Di awal ia sangat berhati-hati menjaga hatinya agar ikhlas. Juga sepanjang perjalanan. Tetapi ketika ia kembali dari haji, mulai muncul kesombongan dan riya.

2. Sesuai dengan ilmu

Tindakan yang kita lakukan harus tetap standar sesuai rukun. Karena kita menginginkan ridha Allah, maka kita harus melakukan sesuai standar Allah.
Dalam pekerjaan, ada dua standar yang harus dipenuhi. Yaitu sesuai aturan sunnah, dan juga mengikuti standar yang disepakati kedua pihak. Jika kita ingin dipuji Allah, maka tunaikan kewajiban kepada orang lain dengan sebaik-baiknya. Kerja pun harus dilakukan dengan sesempurna mungkin.

2. Maksimal, dikerjakan dengan kesungguhan

Misalnya ketika kita memberikan sodaqoh, berilah sebanyak-banyaknya yang kita mampu. Bukankah kita mengharapkan pujian dari Allah? Bukankah kita juga berusaha maksimal ketika kita ingin dipuji oleh manusia?

Dalam hal pelaksanaan rukun ikhlas ini, jika rukun pertama tidak dilakukan, yaitu satu tujuan kepada Allah, maka ikhlas ini menjadi batal, dan kita jatuh kepada riya.

Sedangkan jika kita tidak melakukan rukun kedua dan ketiga, keikhlasan tidak menjadi batal, hanya menjadi tidak sempurna.

Cara terbaik / tips untuk ikhlas adalah memperbanyak perbuatan.

Pada prinsipnya, hati akan menganggap berat sesuatu hal yang jarang dilakukan. Misalnya ketika kita pertama kali umroh, atau kita pertama memberikan sodaqoh, akan terasa tinggi nilainya dalam hati kita.

Jika sesuatu sering kita lakukan, di hati akan terasa ringan, maka akan lebih mudah untuk mengikhlaskan.

Untuk ikhlas membutuhkan ma'rifatullah tinggi. Perlu keyakinan akan kebesaran Allah. Allahu Akbar. Allah Mahakuasa. Mengapa harus bererharap kepada yang tidak memiliki kuasa? Bahkan orang yang hebat pun tidaklah hebat. Yang berkuasa hanya Allah.

Hati hanya bergantung pada yang dianggap hebat. Maka sering-seringlah mengulang Allahu Akbar dalam hati.

Salah satu tips yang mudah dilakukan agar kita tidak mengharapkan pujian orang, adalah menganggap semua orang seperti kucing. Jika yang memberikan tepuk tangan, pujian, apresiasi, adalah kucing, apakah hati kita akan berbunga-bunga? Meskipun orang tidak persis dengan kucing, tetapi pada dasarnya sama, yaitu tidak memiliki kuasa.

Ketika kita riya, sebenarnya kita meletakkan diri dihinakan oleh yang kita harap tersebut.

Yang terpenting dalam ikhlas adalah doa. Karena ikhlas adalah karunia Allah.

Tanya Jawab :

T : Jika di masa lalu kita tidak ikhlas, apakah kita bisa meminta agar diubahkan menjadi ikhlas?

J : Tidak. Karena ikhlas harus dilakukan pada awal, sepanjang, dan akhir sebuah amal. Jika pada proses tersebut sudah ada ketidakikhlasan, maka demikianlah nilai amal tersebut.
Namun, pada dasarnya karunia akhirat adalah karena rahmat Allah, bukan karena perbuatan dan amal kita. Maka yang bisa kita lakukan adalah bertaubat dari riya tersebut. Apa lagi riya adalah dosa terbesar setelah syirik.

Setelah taubat, kembali ke 0, kita tata perbuatan setelah itu, kita tata hati kita agar dapat menjadi orang yang ikhlas.

T : Jika kita melihat orang yang menampakkan amalannya, apakah dapat kita anggap dia riya?

J : Ikhlas adalah amal hati. Apapun tindakannya, bisa saja riya, bisa saja ikhlas. Hanya Allah yang mengetahui. Bahkan malaikat pun tidak mengetahui. Malaikat hanya akan mencatat semua amal yang nanti akan dinilai dan dihisab oleh Allah SWT, di mana amal yang dilakukan tanpa keikhlasan, akan dihapuskan.

Untuk mengetahui motif ikhlas, kita dapat melihat dari ke mana “ujung” suatu amal kita lakukan.
Dalam kita melakukan sesuatu, selalu ada tujuan awal yang bisa saja berhenti di situ, atau masih ada tujuan yang lebih jauh lagi, sampai menuju ke mardhotillah.
Jika tujuannya masih menuju ke mardhotillah, menuju ridha Allah, maka amal tersebut benar dilakukan dengan keikhlasan.

Dalam dakwah, tujuan awal tentunya memang agar orang lain mengikuti. Namun tujuan selanjutnya, bisa berbeda. Jika berhenti sampai agar orang lain mengikuti dan mengingat kita sebagai pelopor, maka bisa jatuh kepada riya.
Tetapi jika tujuannya lebih jauh lagi, yaitu agar orang lain melakukan amal soleh, dan agama ini menjadi semakin maju, dan menuju ridha Allah, maka masuk dalam ikhlas.

Dalam kerja, tujuan awal adalah gaji. Jika berhenti sampai di gaji dan kedudukan, dapat jatuh kepada riya. Tapi jika diniatkan untuk menafkahi keluarga sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah, dapat masuk dalam ikhlas.

Yang terpenting adalah terus mewaspadai bolak baliknya hati. Kita perlu terus meneliti kondisi batin setiap saat.

Doa yang sangat baik untuk dibaca untuk menetapkan hati : Tsabbit qalbi alad diinik

Beberapa buku yang dapat dibaca tentang ikhlas : Madarijus Salikin dan Quantum Ikhlas.

Ikhlas - Manfaat Ikhlas

Ikhlas

Hari Kamis datang lagi, saatnya pengajian mendalam tentang hati dari Ust. Muhsinin Fauzi. Kali ini tentang ikhlas. Sayang sekali lagi, saya tidak hadir dari awal. Mudah-mudahan dari apa yang saya tuliskan dapat bermanfaat.

Tulisan ini cukup panjang, maka saya bagi menjadi dua bagian.

Tiga manfaat dari ikhlas

1. Diterimanya amal

Ikhlas tidak ada kaitannya dgn balasan dan penerimaan dari orang lain. Penerimaan di dunia nggak mempengaruhi hatinya.

Keikhlasan dapat mendorong diterimanya amal, baik oleh Allah maupun di dunia. Salah satu contoh, Imam Nawawi, menuliskan banyak buku yang mendapatkan penerimaan yang sangat luas, antara lain Arbain yang padahal sudah pernah ada yang menuliskannya sebelumnya. Konon hal ini disebabkan karena tingginya keikhlasan beliau.

Jika kita melakukan perbuatan tanpa keikhlasan, bisa jadi kita tidak mendapatkan apapun di dunia, juga tidak mendapatkan apapun di akhirat. Alangkah meruginya.

Indikasi riya antara lain kita takut dilihat dilihat orang dalam melakukan sesuatu. Jika kita ikhlas, ada ataupun tidak ada orang tidak mempengaruhi perbuatan kita.

Dalam ikhlas, hati hanya fokus kepada Allah. Segala yang selain Allah tidak dianggap, tidak ”direken”. Karena itu, keikhlasan hanya dapat ditangkap oleh hati merasakan kebesaran Allah.

Mata fisik hanya dapat menangkap yang ”paling”. Sebagai contoh, jika disandingkan antara Bajaj dan Mercedes Benz, maka mata kita akan memilih salah satu yang paling, dan biasanya adalah yang paling hebat, yaitu dalam hal ini Mercedes Benz.

Demikian juga dengan hati. Hati hanya fokus pada yang ”paling”. Jika kita belum dapat membayangkan Allahu Akbar, di hati ada orang yang kita anggap hebat selain Allah, maka tindakan kita bisa jadi akan dimaksudkan kepada orang tersebut. Kita menjadi riya kepadanya.

Jika orang ikhlas : setan gak akan menyentuhnya. Ini harus terus dijaga dengan ma'rifatullah.

Sifat ikhlas dalam banyak hal bertentangan dengan kapitalisme, yang sering diwarnai dengan sikap pamrih. Di masa sekarang, rasanya tiada tindakan tanpa motif dunia. Orang yang baik tanpa kepentingan, menjadi terasa aneh.

Dalam kerja pun, definisi kerja ikhlas harus jelas. Apa motif kita dalam bekerja? Jika kita mengatakan bahwa kerja adalah ibadah, maka kita harus ikhlas. Sudahkah kita ikhlas?

Pada budaya kerja saat ini di mana orang diharapkan menonjolkan diri, menjual diri, menunjukkan kemampuan, agar terlihat oleh atasan, dapat terjebak dan memberikan ruang untuk riya. Bahkan untuk kerja yang dilakukan atas nama dakwah.

Untuk itu, memang diperlukan kesungguhan batin yang terus menerus.

Tindakan yang tidak diikhlaskan, tidak dihargai oleh Allah SWT, bahkan bisa membawa masuk neraka.

Sebagai contoh, membaca Qur'an adalah ibadah sunnah. Jika kita tidak melakukan maka kita tidak berdosa. Tetapi jika kita melakukan dengan riya, maka kita dapat menjadi berdosa.

Maka mereka yang sudah rajin beribadah, sudah masuk ke wilayah ibadah sunnah. Pastikan kita sudah masuk ke wilayah ikhlas. Agar ibadah yang kita lakukan tidak menjadi petaka.

Apakah lalu kita lebih baik berhenti melakukan ibadah sunnah?
Tentunya tidak! Hal ini bukan dimaksudkan agar kita berhenti melakukan ibadah sunnah, akan tapi untuk memaksimalkan ibadah kita.

2. Hidup Bahagia

Ikhlas adalah karunia dari Allah. Dan mereka yang ikhlas akan memperoleh ketentraman dan ketenangan dalam hidup. Hidup menjadi tentram karena terbebas dari pamrih dan riya.

Biaya riya sesungguhnya sangat mahal. Demi gengsi dan kesan dari orang lain, kita rela menghabiskan banyak uang untuk memilih tempat makan yang bergengsi, memilih baju yang mahal.

Orang yang ikhlas memiliki fleksibilitas hidup yang tinggi. Kondisi di bawah maupun di atas tetap dapat dijalani dengan tentram.

Masalah orang di jaman sekarang : ingin disebut xxx, takut disebut xxx. Hal ini menjadikan kehidupan tidak tentram.

Orang ikhlas hidup tentram, hidup sesuai dengan kemampuannya

3. Ikhlas kepada Allah mendorong kebaikan

Salah satu sebab berhentinya orang melakukan kebaikan adalah ketika apa yang menjadi pamrihnya tidak ia peroleh. Ia berharap pada pujian, tanggapan, apresiasi orang, yang ketika tidak didapatkan, mengakibatkan kekecewaan, yang akhirnya membuatnya berhenti berbuat baik.

Jika tujuan kita hanya kepada Allah, kita akan terus berbuat baik, dan terus berbuat baik, karena kita tidak memerlukan tanggapan dari orang lain.

Wednesday, November 24, 2010

3 Tingkatan Bersyukur

Dari Ceramah Dzuhur di kantor siang ini, pembahasan yang sangat mendasar dari Ust. Muhsinin Fauzi. Sebenarnya saya (sekali lagi hehe..) tidak hadir dari awal, tapi mudah-mudahan ada yang bisa menjadi hikmah.

Bersyukur adalah situasi batin yang terus merasakan kenikmatan atas karunia Allah.

Berkembangnya kapitalisme dan semakin meluasnya globalisasi, menyebabkan kita selalu dikejar target, yang ternyata dapat mengarah menjadi sikap kurang bersyukur, melupakan syukur.

Target, sebagaimana yang kita sering alami sendiri, semakin lama semakin meningkat. Tidak pernah ada target yang mundur. Jika saat ini kita berhasil meningkatkan penjualan 10% misalnya, maka tahun depan akan ditarget menjadi 15%. Tidak mungkin menjadi 5%. Dan itu terjadi terus menerus. Terus meningkat.

Dalam mengejar target, kita jadi seolah-olah melupakan syukur. Kita melihat yang belum kita dapatkan, dan melupakan yang sudah kita dapatkan.

Rasa ingin mendapatkan lebih bukan merupakan hal yang salah. Tetapi kita harus bisa merasa bahagia dengan yang sudah kita dapatkan.

Yang sering terjadi saat ini, begitu kita memperoleh yang kita inginkan, kita langsung mengeset target berikutnya.
Contohnya, hari ini masuk kerja, kita langsung memasang target dalam 2 tahun promosi. Hari ini kita dipromosi, kita langsung pasang target promosi lebih tinggi lagi.

Saat ini di kalangan motivator, mulai dimasyarakatkan metode "menikmati kemenangan-kemenangan kecil". Keberhasilan-keberhasilan kecil yang diperoleh kita nikmati, agar hati lebih tenang dan tenteram.

Maka salah satu tips untuk dapat bersyukur adalah fokus terhadap apa yang sudah didapatkan dan jangan berfokus kepada apa yang belum didapatkan.

Bersyukur artinya menikmati yang didapatkan.
Kabahagiaan artinya merasakan kenikmatan atas yang didapatkan.
Sehingga bersyukur dan bahagia adalah hal yang sangat saling berkaitan.

Penelitian menemukan bahwa tingkat kebahagiaan masyarakat modern menurun drastis. Survei terhadap 11 kota di Indonesia tentang tingkat kebahagiaan, menunjukkan bahwa 50% orang Jakarta tidak bahagia. Orang Medan paling tidak bahagia, dan orang Semarang paling bahagia.

Jika kita bersyukur Allah akan meridhai.

Bersyukur pada dasarnya adalah ibadah hati yang cukup mudah. Hanya dibutuhkan konsentrasi bati, tidak diperlukan waktu dan posisi khusus. Dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Terdapat tiga kategori tingkatan syukur :

Tingkat pertama, bersyukur atas karunia Allah yang kebetulan kita sukai.
Bersyukur ini adalah bersyukur tingkat paling dasar, tingkat awam. Namun tetap perlu kerja keras untuk dapat membiasakannya.

Tingkat kedua, bersyukur atas karunia yang datang dari Allah yang tidak kita sukai.
Harus diyakini bahwa mata manusia tidak seawas iradah Allah. Harus diyakini bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik. Dengan tingkat syukur seperti ini, apapun yang terjadi di luar kita tidak akan membuat kita sedih. Karena kebaikan belum tentu ada pada yang kita sukai.

Tingkat ketiga, bersyukur kepada Allah tanpa melihat karunia.
Bersyukur tertinggi, tanpa kepentingan. Selama datang dari Allah, maka disyukuri.

Apakah lalu dengan kondisi seperti ini maka jadi tidak ada dinamika?

Ternyata justru sebaliknya.

Dalam bab lain kehidupan, ada perintah meningkatkan kebaikan, yang juga harus tetap dilakukan. Justru dengan rasa syukur, dengan kelapangan hati, bisa meningkatkan potensi. Jika hati keruh, potensi tidak keluar, justru sulit untuk meningkatkan kebaikan. Hal ini berlaku umum, dalam kita menyikapi orang lain. Penerimaan akan mendatangkan potensi, penolakan akan menurunkan potensi.

Sabar? Mungkin Ini 3 Kuncinya

2 hari yang lalu, hari Senin saya demam, radang tenggorokan, tertular dari anak saya yang nomor dua, yang Senin itu sudah mulai sehat.

Senin malam, anak saya yang bungsu mulai demam. Selasa saya masih dalam penyembuhan, sekaligus menjadi perawat anak saya yang bungsu, lengkap dengan begadangnya.

Rabu, karena tidak enak sudah dua hari tidak masuk kantor, sayapun berangkat. Alhamdulillah si bungsu ternyata sudah mulai membaik, sehingga sudah bisa ditangani oleh Mbak Susternya.
Berhubung baru begadang plus masih belum sembuh benar, pulang kantor saya rasanya benar-benar lelah.

Alhamdulillah masih sempat mandi. Dan jam 5 sudah sampai di rumah.

Mulailah bermunculan berbagai masalah sehingga akhirnya kesabaran saya hilang (lagi). Hiks.
Anak kedua mogok mengerjakan PR. Setelah dipaksa, dia mengerjakan PR sambil menangis. Anak bungsu rewel, minta naik ke atas, turun ke bawah. Ayah saya datang, saya tak sempat bicara lama. Anak pertama saya cek, belum belajar. Mbak Suster mengeluh meriang. Lampu dan AC kamar menyala padahal tidak ada orang.

Padahal saya masih punya target pribadi, saya belum makan, belum shalat Isya, belum packing orderan, plus hidung masih mampet karena flu.

Rasanya saya sungguh manusia superburuk. Tidak bisa menjaga kesehatan diri dan keluarga. Tidak bisa memotivasi anak untuk belajar. Tidak bisa me-manage para Mbak dan penggunaan peralatan di rumah. Tidak bisa menjadi anak yang baik buat Ayah saya.

Perasaan ini membuat saya semakin down, semakin bete. Dan dengan betenya saya, semakin buruk reaksi saya terhadap berbagai persoalan yang di waktu lain bisa saya selesaikan dengan gemilang.

Sampai akhirnya semua anak sudah tidur. Setelah saya selesai makan. Setelah saya selesai shalat Isya dan packing orderan.

Tiba-tiba rasanya 80% persoalan jadi selesai.

Namun saya jadi menyesal, betapa sesungguhnya tadi banyak hal yang bisa saya sikapi dengan baik.

Mungkin kuncinya :

Pertama, lupakan target pribadi.
Makan masih bisa ditunda. Waktu Isya masih panjang. Packing orderan apa lagi, tertunda sehari pun tak masalah.

Kedua, berlaku kuat dan sabar.
Walaupun sudah lelah dan mau meledak. Berpura-puralah untuk tetap kuat dan sabar. Kalau perlu niatkan dalam rangka jaim dan gengsi. It might work.

Ketiga, hilangkan harapan akan kesempurnaan.
Harapan akan kesempurnaan membuat kita terbeban akan target. Mungkin anak kita boleh-boleh saja PR-nya tidak terlalu bagus. Mungkin anak kita boleh-boleh saja sekali-sekali tidak belajar. Mungkin tidak apa-apa sekali-sekali tidak menyambut kedatangan Ayah.
Point terakhir ini yang sepertinya paling penting. Dengan melihat prestasi walaupu kecil, kita menjadi lebih tenang.

Dan tadi performansi saya sebenarnya tidak terlalu buruk.

Saya sempat mendengar si sulung berlatih piano dan tepuk tangan. Saya sempat shalat maghrib dengan tenang karena si bungsu dengan suka rela beralih ke suami. Anak nomor dua akhirnya bisa menikmati mengerjakan PR-nya. Si Mbak Suster ternyata sudah tidak meriang. Saya sempat juga bercanda dengan si bungsu, dan dia tertawa geli.

Hidung mampet, sebaiknya cobalah untuk tabah. Bagaimana jika nanti kena penyakit yang lebih parah? Apa akan merasa layak untuk terus berkeluh kesah dan marah-marah? Baru hidung saja yang bermasalah.

Ternyata, malam ini tidak terlalu buruk. Cobalah untuk memaafkan diri sendiri. Walaupun tetap berusaha untuk memperbaiki diri.

Tetap semangaaaat :-)

Sunday, November 7, 2010

Mendidik Calon Jenderal

Kisah ini saya peroleh dari Mbak Neno Warisman, ketika beberapa tahun yang lalu berceramah di kantor saya. Sangat berkesan, sehingga sampai sekarang saya masih ingat. Mohon izin kepada Mbak Neno untuk saya share, semoga banyak yang dapat memperoleh manfaatnya.

Saya mulai ya kisahnya..

Beberapa puluh tahun yang lalu, di sebuah desa di Jawa Tengah, tinggal seorang Ibu dengan seorang anak laki-lakinya, yang bernama Joko (saya lupa-lupa ingat nama sebenarnya).
Sebagaimana pada umumnya rumah di desa, di belakang rumah itu terdapat kandang ayam peliharaan keluarga. Maka di halaman belakang itu berkeliaranlah ayam-ayam, termasuk kotorannya yang menghiasi seluruh penjuru halaman.

Siang itu Joko sedang bermain di halaman belakang, ketika tiba-tiba seekor ayam hinggap dan membuang kotorannya tepat di paha Joko.

Sontak Joko pun menangis, memanggil ibunya yang saat itu sedang memasak di dapur. "Ibuuuu", begitu teriak Joko berulang-ulang sambil menangis merengek, sampai ibunya datang menghampirinya.
"Ada apa Nak? Ibu kan sedang memasak di dapur untuk kita makan siang nanti. Kamu kenapa Nak?", tanya sang Ibu dengan sabar.
"Iniiiiii", kata Joko, masih menangis merengek, sambil menunjuk ke kotoran ayam yang ada pahanya.
"Ooo, ada kotoran ayam ya? Nih, Ibu bersihkan ya", kata sang Ibu sambil menyingkirkan kotoran ayam itu ke tanah halaman.
"Tuh, sudah bersih, menangisnya berhenti ya", kata sang Ibu.

Sang Ibu pun kembali ke dapur, mencuci tangan, untuk kemudian melanjutkan memasak.
Belum selesai Ibu Joko mencuci tangan, terdengar lagi suara Joko.
"Ibuuuuu", teriak Joko lagi, berulang-ulang, sambil menangis merengek lagi.
Sang Ibu pun kembali menghampiri Joko.
"Ada apa lagi Nak? Ada kotoran ayam lagi?" tanya Ibu Joko sambil mencari-cari di mana kotoran ayam itu hinggap kali ini.
"Bukaaan, kembalikan lagi kotoran ayamnyaaa", teriak Joko, sambil menangis merengek.
Ibu normal pasti naik pitam dan langsung menolak permintaan aneh seperti itu. Tapi tidak dengan Ibu Joko. Dengan sabar dia ikuti kemauan anaknya.
"O ya? Mau dikembalikan lagi? Ya sudah, nih, Ibu kembalikan lagi ya." kata Ibu Joko sambil mengambil kembali kotoran ayam tadi dari tanah halaman, dan meletakkannya di paha Joko.
"Sudah ya, sekarang Ibu mau masak lagi." Ibu Joko pun kembali ke dapur, mengulang mencuci tangan, dan bersiap-siap kembali memasak.

Belum sempat Ibu Joko mulai memasak, terdengar lagi suara Joko.
"Ibuuuuu", untuk ketiga kalinya Joko berteriak, berulang-ulang, sambil menangis merengek.
Ibu normal biasanya sudah akan ada dalam posisi sangat naik pitam, meracau sana-sini, kesal, karena berkali-kali dipanggil untuk hal yang tidak penting, di tengah kesibukan yang sedang dilakukan.
Tapi apa yang dilakukan Ibu Joko? Dia tetap sabar, dan kembali menghampiri Joko, sama seperti reaksinya ketika mendengar teriakan Joko yang pertama.
"Lho, ada apa lagi Joko?" tanya sang Ibu dengan tetap tenang.
"Bentuknya kok bedaaaa" teriak Joko, sambil menangis merengek.

Wah, sungguh hal yang mustahil. Bagaimana mungkin mengembalikan kotoran ayam seperti bentuknya semula?
Ibu normal biasanya akan marah besar, dan mulai memberikan ceramah tentang kemustahilan itu.
Apa yang dilakukan Ibu Joko?
Ibu Joko hanya berkata, "Joko, Joko, mudah-mudahan kamu kalau besar nanti jadi Jenderal ya. Dari kecil sudah pintar sekali memberi perintah".

Dan Anda tahu apa yang terjadi pada Joko? Ketika Pak Joko menceritakan kisah ini pada Mbak Neno, beliau sudah menjadi Jenderal bintang tiga. Subhanallah.

Betapa kekuatan kesabaran dan doa seorang Ibu, akan membuahkan hasil yang sangat gemilang di masa depan.

Beberapa hal yang bisa kita petik untuk kita teladani dari Ibu Joko adalah :
1. Sabar, sabar, sabar. Pada dasarnya kita pasti, sekali lagi pasti, bisa untuk tetap bersabar.
2. Cari sisi positif dari hal yang dilakukan anak. Menyalahkan anak seringkali justru menjadi kontra produktif, membuat anak menjadi kurang berani. Hargai semua yang anak lakukan dan inginkan.
3. Berdoa, berdoa, berdoa. Doa adalah harapan. Doa bisa membantu terwujudnya kenyataan. Hati-hati dengan ucapan negatif, karena juga bisa menjadi doa yang buruk.

Semoga kita semua dapat meneladani kesabaran Ibu Joko, dan mendidik anak-anak kita menjadi pemimpin bangsa. Amin :-)

Kisah Anak Menjual Sapi (3)

Lanjutan kisah dari pengajian Ramadhan dua bulan yang lalu, disampaikan oleh Ust. Adiwarman Karim, tentang seorang ibu solehah dan anaknya yang soleh yang sedang berusaha menjual seekor sapi.

Keesokan paginya, sang Ibu berkata lagi kepada anaknya, ”Nak, tolong kau jualkan sapi ini ke pasar, kau boleh jual 1.000 atau 2.000 dirham.”

Sang anak pun menyanggupi perintah ibunya, dan berangkat menuju ke pasar.

Sampai di lokasi pasar, ternyata hari itu pasar tutup, sehingga sang anak tidak lagi bisa berjualan.

Sambil menuju pulang, sang anak berjumpa dengan seorang lelaki.

Sang lelaki yang rupanya adalah setan yang sedang menyamar, berkata kepada sang anak, ”Nak, apakah akan kau jual sapi itu?”
Sang anak pun berkata kepada lelaki tersebut, ”Ibu meminta saya untuk menjual sapi ini kepada Bapak seharga 1.000 atau 2.000 dirham”

Lelaki itu pun berkata, ”Nak, kulihat kau sudah 3 kali bolak balik dari rumahmu yang jauh ke pasar ini. Bagaimana jika kautawarkan kepadamu suatu hal. Kubeli sapi ini seharga 2.000 dirham, tapi kausampaikan kepada ibumu, bahwa terjual seharga 1.000 dirham. 1.000 dirham lagi kauambil untukmu sendiri.”

Sang anak, dengan keterbatasan pikirnya, menjawab, ”Tidak Pak. Bagaimana mungkin aku akan membohongi ibuku yang sudah melahirkan dan membesarkanku?”

Dan iapun kembali ke rumah, bersama sapi yang belum juga terjual.

Pulanglah sang anak ke rumahnya. Ibunya terkejut melihat sapinya belum terjual. Dia pun bertanya, mengapa hal itu bisa terjadi, dan apakah memang tidak ada orang yang bersedia membeli sapi mereka.

Maka berkatalah sang anak, ”Ibu, hari ini pasar tutup maka aku tidak bisa berjualan ke pasar. Di perjalanan pulang, sebenarnya aku berjumpa dengan seorang Bapak yang bersedia membeli sapi ini seharga 2.000 dirham. Namun ia memintaku untuk membohongimu, dan berkata bahwa sapi ini terjual 1.000 dirham, dan mengambil 1.000 dirham untukku sendiri. Bagaimana mungkin aku akan membohongi Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkanku?”

Sang Ibu yang soleh pun terharu, dan berkata, ”It’s OK my son. Besok kau coba jual lagi ya Nak.”

Bertepatan dengan saat itu, datanglah sekelompok orang ke rumah tersebut. Kelompok orang ini ternyata adalah Bani Israil yang sedang mencari sapi betina. Sapi ini ternyata sangat cocok dengan yang mereka cari. Maka mereka pun membeli sapi itu seharga emas seberat sapi tersebut.

Subhanallah. Kesalihan, ketaatan, dan kesabaran yang membuahkan hasil gemilang.

Kisah Anak Menjual Sapi (2)

Lanjutan kisah dari pengajian Ramadhan dua bulan yang lalu, disampaikan oleh Ust. Adiwarman Karim, tentang seorang ibu solehah dan anaknya yang soleh yang berusaha menjual seekor sapi.

Keesokan paginya, sang Ibu berkata lagi kepada anaknya, ”Nak, tolong kau jualkan sapi ini, seharga 2.000 dirham, kepada orang yang kautemui kemarin, atau ke pasar.”

Sang anak pun menyanggupi perintah ibunya, dan berangkat menuju ke pasar.

Dalam perjalanan menuju ke pasar, sang anak berjumpa dengan seorang lelaki yang kemarin.

Sang anak pun berkata kepada lelaki tersebut, ”Pak, Ibu meminta saya untuk menjual sapi ini kepada Bapak seharga 2.000 dirham yang Bapak minta kemarin. Apakah Bapak bersedia?”

Lelaki itu pun berkata, ”Wah, maaf Nak. Kemarin aku sudah membeli sapi. Tapi kau coba saja jual sapimu itu ke pasar.”

Sang anak pun melanjutkan perjalanannya ke pasar. Di pasar, harga sapi 2.000 dirham tersebut tentunya berada di atas harga normal, maka orang tidak ada yang bersedia membelinya, kecuali dengan harga 1.000 dirham. Dan sang anak tidak bersedia menjual sapinya di harga tersebut.

Sampai tibalah sore hari, sapi itu tidak berhasil terjual.

Pulanglah sang anak ke rumahnya. Ibunya terkejut melihat sapinya belum terjual. Dia pun bertanya, mengapa hal itu bisa terjadi, dan apakah memang tidak ada orang yang bersedia membeli sapi mereka.

Maka berkatalah sang anak, ”Ibu, Bapak yang kemarin sudah tidak lagi membutuhkan sapi. Di pasar, ada orang yang mau membeli sapi kita. Tapi harga yang mereka minta adalah 1.000 dirham. Padahal Ibu memintaku untuk menjual seharga 2.000 dirham. Maka sapi ini tidak aku jual.”

Sekali lagi, Ibu yang soleh ini tidak marah, dia berkata, ”It’s OK my son. Besok kau coba jual lagi ya Nak.”

-- bersambung --

Kisah Anak Menjual Sapi (1)

Dari pengajian Ramadhan dua bulan yang lalu, disampaikan oleh Ust. Adiwarman Karim. Mudah-mudahan beliau berkenan kisah ini saya tuliskan. Saya coba tuliskan sejauh yang saya ingat :-)

Ada dua kisah yang disampaikan oleh beliau.

Kisah pertama tentang Bani Israil dan pertanyaan-pertanyaannya kepada Allah melalui Nabi Musa, tentang perintah mencari sapi betina (Al Baqarah 67-71).

Kisah kedua, tentang seorang ibu solehah dan anaknya yang soleh, yang sedang berusaha menjual seekor sapi.

Dikisahkan ibu dan anak ini hanya tinggal berdua saja di sebuah dusun. Sang anak, walaupun soleh, sedikit kurang pintar. Satu-satunya harta milik mereka saat itu adalah seekor sapi. Karena membutuhkan uang, maka sang ibu meminta anaknya untuk menjualkan sapi mereka ke pasar.

Sang Ibu berkata pada anaknya, ”Nak, tolong kau jualkan sapi ini ke pasar, seharga 1.000 dirham.”

Sang anak pun menyanggupi perintah ibunya, dan berangkat menuju ke pasar.

Dalam perjalanan menuju ke pasar, sang anak berjumpa dengan seorang lelaki. Melihat sapi yang sangat bagus tersebut, lelaki itu pun ingin membelinya.

Bertanyalah ia kepada sang anak, ”Nak, hendak ke manakah engkau. Sapi yang kaubawa itu, apakah akan kaujual?”

Sang anak pun menjawab, ”Saya hendak ke pasar Pak. Ya, sapi ini akan saya jual, atas perintah ibu saya.”

Lelaki itu pun berkata lagi, ”Sapimu bagus sekali Nak. Begini, kau tidak perlu ke pasar, aku akan beli sapimu seharga 2.000 dirham.”

Sang anak, dengan keterbatasan kemampuan berpikirnya menjawab, ”Maaf Pak, sapi ini diperintahkan ibu saya untuk dijual seharga 1.000 dirham, saya tidak akan menjualnya seharga 2.000 dirham. Biarlah saya tetap jual di pasar.”

Dengan kebingungan, sang lelaki pun membiarkan sang anak meneruskan perjalanannya ke pasar. Di pasar, berita telah tersiar bahwa sapi tersebut tidak dapat dibeli seharga 2.000 dirham, maka orang pun menawar lebih tinggi, dan sang anak pun semakin tidak bersedia menjual.

Sampai tibalah sore hari, sapi itu tidak berhasil terjual.

Pulanglah sang anak ke rumahnya. Ibunya terkejut melihat sapinya belum terjual. Dia pun bertanya, mengapa hal itu bisa terjadi, dan apakah memang tidak ada orang yang bersedia membeli sapi mereka.

Maka berkatalah sang anak, ”Ibu, sebenarnya tadi ada orang yang mau membeli sapi kita. Tapi harga yang ia minta adalah 2.000 dirham. Padahal Ibu memintaku untuk menjual seharga 1.000 dirham. Maka sapi ini tidak aku jual padanya.”

Ibu yang soleh ini tidak marah, dia berkata (sesuai yang disampaikan Ust. Adiwarman secara kocak) ”It’s OK my son. Besok kau coba jual lagi ya Nak.”

-- bersambung --

Mungil itu (seolah-olah) Muda :-)

Saya ditakdirkan bertubuh mungil. Sejak TK sampai sekarang sudah menjadi ibu, saya relatif (atau absolut ya hehe..) lebih mungil (kalau disebut pendek kurang keren) dari teman-teman sebaya. Candaan ”semampai – semeter tak sampai” dan”duduk sama rendah, berdiri sama saja” sudah menjadi santapan sehari-hari :-)

Dan ternyata, jadi mungil itu asyik juga lho. Orang jadi sering menyangka saya berumur jauh lebih muda dari yang sebenarnya.

Di tempat umum ketika saya datang sendirian, biasanya orang menyangka saya belum menikah. Biasanya mereka akan sedikit terkejut ketika saya sampaikan saya sudah menikah. Kemudian akan makin terkejut ketika saya bilang sudah punya anak. Lalu mereka akan terkejut luar biasa ketika saya sampaikan bahwa anak saya sudah 3 orang :-)

Di tempat-tempat ketika saya hanya berdua suami, biasanya orang menyangka kami pasangan newly-wed. Pas kebetulan suami saya juga baby face :-)

Kalau saya pergi hanya membawa anak yang bungsu yang berusia dua tahun, biasanya orang menyangka itulah anak pertama saya. Padahal dua kakaknya sudah SD :-)

Yang paling dahsyat, waktu saya ke sekolah anak saya, mau mendaftarkan anak saya ke TK. Saat itu memang saya sedang berkostum santai. Rok jeans, sepatu kets, baju kaus tangan panjang. Saya masuk ke ruang administrasi pendaftaran TK.
Apa sambutan dari petugas administrasi? ”Maaf Dik, pendaftaran SMP di ruang yang sebelah sana!”
Bwahaahaaha.. saya diaggap anak yang mau daftar SMP! Setelah saya jelaskan, baru petugas itu menyambut saya sebagai orang tua murid TK :-)

Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya tetap gembira dengan kemungilan ini. Alhamdulillah, selalu ada hal yang bisa disyukuri :-)

Friday, November 5, 2010

Bersyukur Mantab

Bersyukur intinya adalah berpikir positif. Yakin bahwa ketentuan Allah yang terjadi adalah yang terbaik. Bahwa kondisi yang kita alami bisa jauh lebih buruk. Kali ini kita coba bahas untuk masalah keuangan.

Fenomena orang gajian saat ini adalah, begitu gajian, langsung uangnya habis, untuk bayar berbagai tagihan. Sehingga ada ungkapan ”Gajian mah cuma numpang lewat doang”.

Sesungguhnya walaupun ”Cuma numpang lewat”, kita sungguh harus bersyukur. Bahwa masih ada yang ”lewat”, artinya masih ada sumber pendapatan untuk membayar semua tagihan-tagihan yang datang.

Kondisinya bisa lebih parah.

Jumlah tagihan lebih besar daripada gaji yang masuk. Besar pasak daripada tiang. Pada tahap ini, ada kalanya muncul keluhan ”Haduh sudah mulai mantab nih hidup, makan tabungan”.

Sesungguhnya walaupun ”Mantab”, kita sungguh harus bersyukur. Bahwa masih ada tabungan yang bisa kita gunakan. Bukankah tabungan memang digunakan ketika diperlukan?

Kondisinya bisa lebih parah.

Lebih besar pasak daripada tiang, dan tidak ada tabungan. ”Mesti ngutang terus sama tetangga”.

Sesungguhnya walaupun harus ngutang, kita sungguh harus bersyukur. Bahwa masih ada orang yang bersedia kita hutangi. Bukankah itu artinya kita masih dipercaya bahwa akan membayar?

Kondisinya bisa lebih parah.

Lebih besar pasak daripada tiang, tidak ada tabungan, tidak ada lagi orang yang mau menghutangi.

Namun, sesungguhnya dalam kondisi inipun kita harus tetap bersyukur, karena kita masih punya penghasilan. Mungkin kita harus evaluasi lagi penggunaannya agar bisa mencukupi.

Kondisinya bisa lebih parah.

Tidak ada sumber penghasilan, tidak ada tabungan, tidak ada lagi orang yang mau menghutangi. Hidup menunggu belas kasihan. Kondisi yang sangat sulit. Dibutuhkan kekuatan luar biasa, agar bisa bangkit dan kembali mandiri.

Kembali ke kondisi kita masing-masing. Di manakah kita saat ini?

Bersyukurlah, bersyukurlah, bersyukurlah. Barang siapa bersyukur, maka Allah akan tambahkan. Barangsiapa kufur (tidak bersyukur) maka sesungguhnya azab Allah sangat pedih.

Dengan bersyukur hidup akan terasa lebih tenang. Dan Allah akan tambahkan rezeki dari arah yang tidak kita sangka-sangka.

Kalaupun kita dalam kesulitan keuangan, sesungguhnya masih banyak aspek lain yang dapat kita syukuri. Keluarga, kesehatan, dan yang terpenting adalah keislaman kita (bagi yang muslim).

Namun tentunya, di sisi lain, kita tetap harus melakukan evaluasi atas pengeluaran kita. Jangan-jangan memang ada kesalahan prioritas dalam kita membelanjakan uang kita. Pada dasarnya Allah berikan rezeki yang cukup. Jika dirasa tidak cukup, seharusnya bisa dicukup-cukupkan. Mungkin harus kita turunkan beberapa standar kehidupan kita.

Mari kita perbanyak bersyukur. Bersyukur sepanjang waktu.

Thursday, October 28, 2010

Taubat - Rutinkan Yuk..

Dari ceramah dzuhur di kantor hari ini, dari Ust. Muhsinin Fauzi. Mohon maaf saya hanya hadir di 30 menit terakhir. Tetapi mudah-mudahan ada hal yang bermanfaat.

Taubat sebaiknya dijadikan ritual rutin setiap hari.

Dibandingkan dengan para Sahabat, sebenarnya ilmu kita dapat dikatakan lebih luas, karena kita mempelajari banyak hal. Namun, dengan ilmu yang terbatas, para Sahabat telah membuktikan penghambaannya kepada Allah SWT, sehingga menjadi manusia yang mulia. Sedangkan kita lebih banyak hanya mempelajari saja ilmunya, tanpa implementasi secara hakiki.

Contohnya di masa sekarang, pada pelaksanaan ruqyah, sebenarnya yang penting bukan apa yang dibaca, tetapi siapa yang membaca. Pada orang yang mulia, bacaan yang sederhana pun dapat menjadi doa yang manjur.

Di usia yang sudah menjelang 40 tahun, 60 tahun, sudah saatnya untuk serius dengan hidup, tidak lagi main-main. Sudah saatnya untuk mendaki kemuliaan.

Empat kategori manusia yang diberi karunia :
1. Nabi, yang sepenuhnya membuktikan kehambahaan kepada Allah, sampai ”mentok”.
2. Ash-shidiqin, yang sepenuhnya membuktikan kehambahaan kepada Allah, semua dipertaruhkan untuk Allah, tetapi tidak sampai se-”mentok” Nabi. Yang masuk kriteria ini adalah para Sahabat.
3. Asy-syuhada, yang sepenuhnya membuktikan kehambaan kepada Allah dengan miliknya yang paling mahal, yaitu nyawa. Bagi mereka tidak akan lagi dihitung amalan lainnya, mereka akan masuk surga.
4. Ash-sholih, yang membuktikan kehambaan kepada Allah, dengan sebagian miliknya. Sebagaimana hukum bersedekah, maka maksimal 1/3 diberikan kepada orang lain, 2/3 digunakan untuk kepentingan kita sendiri.

Untuk kategori Ash-sholih, ada tingkatan-tingkatannya. Semakin mendaki, semakin banyak yang diperhambahkan, semakin besar yang dikorbankan, maka semakin mulialah orang tersebut.

Beberapa kalimat taubat yang sebaiknya dihafalkan untuk dirutinkan dibaca (untuk bahasa Arab sebaiknya dibaca langsung dari huruf Arabnya, agar tidak terjadi kesalahan huruf) :
1. Taubat Nabi Yunus a.s (QS Al Anbiya 87)
2. Taubat Nabi Adam a.s (QS Al A’raf 23)
3. Taubat Nabi Muhammad SAW : Rabbighfirli wa tub alayya innaka antat tawwaabur rahiim
4. Taubat Aisyah : Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa’fuanni
5. Sayyidul istighfar : Allahumma anta rabbi laa ilaha illa anta kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu a’udzubika min syarri ma shona’tu abu-u laka bini’matika ‘alaiyya wa abu-u bidzanbi faghfirli fa innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illa anta

Berikut adalah beberapa penjelasan atas sayyidul istighfar tersebut :

1. Tujuan hidup pada dasarnya hanya satu. Yaitu untuk menjadi hamba yang benar. Haji adalah contoh analogi yang tepat dari tujuan itu. Haji ganjarannya hanya satu, yaitu mabrur. Pelaksanaan haji pada dasarnya memastikan hamba menjalankan hal yang benar, dan menghindarkan larangan, walaupun jika dipikirkan secara logis, beberapa ritual dalam haji dapat dikatakan kurang rasional.

2. Sebenarnya, kita telah memiliki banyak komitmen dan janji kepada Allah. Pertama adalah janji ”Bala syahidna”, setelah itu janji kita pada setiap shalat dalam doa iftitah. Seringkali kita baru hanya memiliki agama, tetapi belum benar-benar beragama. Janji kepada Allah sungguh bukan perkara yang remeh. Pada tahap penghambaan yang tinggi, maka diiri tidak lagi memiliki kepentingan atas diri, semua hanya untuk ridha Allah.

3. Masytatho'tu : semampuku, bukan semauku

4. Di tahap terakhir sayyidul istighfar, jika dosa diumpamakan seperti penyakit, maka seperti kita telah menemukan virus penyebabnya, kita masuk ke ruang isolasi, dan meminta kepada Allah untuk mengampuni dosa tersebut. Jika ada yang pernah melihat gambar dampak negatif merokok (gambar orang dengan berbagai penyakit di berbagai bagian tubuhnya), mungkin seperti itulah gambaran kita dengan dosa-dosa yang diperbuat oleh seluruh tubuh kita. Naudzubillahi min dzalik.

5. Saat kita meminta Allah mengampuni dosa maka Allah langsung hilangkan semua dosa kita. Seolah-olah badan yang bebas dari berbagai penyakit, yang siap untuk memulai dari 0 dalam kehidupan, mengejar segala ketertinggalan.

Taubat juga memiliki fadhilah, yaitu manfaat bagi kehidupan kita. Taubat adalah kebaikan. Untuk di dunia, taubat akan membawa limpahan karunia, menjauhkan dari kekeringan, memudahkan harta dan anak.

Bagi manusia yang tidak lagi memiliki dosa kepada Allah, tidak ada penghalang antara dia dengan Allah, maka semua doanya dikabulkan, semua kehidupannya akan berjalan dengan lancar.

Taubat yang dilakukan secara rutin dapat diumpamakan seperti sistem antivirus. Jika taubat dilakukan secara serius, akan menimbulkan selera kebaikan. Tidak lagi akan menyukai kemaksiatan. Makanan haram keluar. Pandangan, pendengaran, pembicaraan yang haram tidak bisa terjadi.

Taubat yang benar, akan berdampak kepada orang tersebut, tidak akan mengulangi lagi. Jika mengulangi lagi, maka mungkin ada kekurangan. Mungkin kekurangannya pada penyesalan, pembuktian, atau kurangnya ilmu, sehingga tidak memahami bahwa yang dilakukan adalah salah, atau jatuh ke kesalahan yang lain. Jika karena kelemahan atau kekhilafan, semoga tidak membatalkan taubat yg pertama, semoga tetap dimaafkan Allah. Namun jika dilakukan dengan sengaja, apalagi direncanakan, maka taubat harus diulang. Ini salah satu pentingnya taubat dirutinkan setiap hari.

Sedikit di luar topik. Dalam hukum Islam, pada kasus seseorang wafat karena hal yang mungkin dapat dianggap bunuh diri, perlu diputuskan oleh pengadilan apakah hal tersebut termasuk bunuh diri. Jika memang bunuh diri, maka tidak dishalatkan. Untuk negara bukan berdasarkan hukum Islam, cukup kita berdoa semoga Allah memaafkan orang tersebut.

Demikian catatan ceramah dzuhur kali ini, semoga Allah mudahkan kita semua untuk menjalankannya. Aamiin.

Saturday, August 7, 2010

Kala Meletup Menghadapi Serbuan Anak

Tadi malam saya menghadapi kondisi yang lumayan kompleks. Kalau kata anak saya yang paling kecil, kom-pe-lek-s :-)

Coba sedikit dibayangkan dulu ilustrasinya ya :-)

Saya pulang dari kantor, untungnya dengan supir, jadi nggak secapek kalau nyetir sendiri sih, tapi tetep aja capek.

Jadi saya pulang kantor, dari kantor sekitar jam 17.45. Dari kantor saya ke rumah, biasanya ditempuh dalam waktu 45 menit, maksimal 1 jam deh. Hari itu, 2 jam! Itu pun sudah dengan mencari jalan-jalan tikus dan melambung menghindari simpul-simpul macet.

Sampai di rumah, langsung mandi, solat, makan, lalu bergabung dengan anak-anak di kamarnya.

Dan ketiga anak saya langsung semuanya menyerbu.
Yang paling kecil minta menyusu, dua yang besar minta dibantu membuat PR. Plus ada teman sesama ibu, tanya juga tentang PR anaknya lewat BBM.

Saya yang prosesornya baru saja kepanasan, overload karena kelamaan kena macet plus cari rute jalan tikus, lalu diminta multitasking menyusui sambil menjelaskan 2 PR, mulai meletup-letup.

Anak-anak saya, yang perasaannya memang sensitif seperti mamanya, hehe, langsung mengkeret. Dan karena mereka anak baik, mereka nggak ngambek. Hanya lalu menjauh.

Sedikit penyesalan muncul. Tapi berhubung prosesor masih panas, kalah tuh penyesalan. Ya udahlah, mau gimana lagi. Memang capek, boleh dong marah dikit. Nobody's perfect.

Sampai tadi pagi. Ketika dalam perjalanan ke kantor, suasana tenang, saya memikirkan kembali yang terjadi kemarin.

Seharusnya saya amat sangat patut bersyukur. Dan dalam syukur itu seharusnya tidak ada ruang untuk kesal, apa lagi marah.

Anak-anak datang menyerbu bukankah artinya anak-anak senang dekat dengan kita? Ini modal yang sangat penting untuk tumbuh kembangnya terutama di masa-masa kritis nanti.

Anak-anak datang bertanya tentang PR-nya bukankah berarti mereka anak-anak yang rajin, yang sedang berusaha yang terbaik menyelesaikan tugasnya? Daripada mereka yang harus dipaksa-paksa untuk membuat PR? Bukankah itu artinya mereka anak-anak yang bertanggung jawab? Itu juga adalah modal untuk mereka di masa depan.

Dan bahwa mereka bisa membuat PR, bisa bertanya, bisa menyerbu kita, itu artinya mereka sehat wal afiat, tak kurang suatu apa.

Memikirkan itu semua, penyesalan yang tadi malam hanya sedikit, langsung berubah menjadi setinggi bukit. Dan saya bertekad untuk memperbaikinya malam nanti. Secapek apa pun, saya harus tersenyum, dan meladeni anak-anak saya, semuanya :-)

Tuesday, June 8, 2010

Ujian Keikhlasan

Melakukan perbuatan baik sebenarnya hal yang mudah. Karena fitrah manusia sebenarnya adalah berbuat baik. Setelah berbuat baik, hati akan terasa tenang. Sedangkan setelah berbuat buruk, hati akan terasa gelisah.

Seperti pada hadis yang menyatakan bahwa tanda-tanda perbuatan dosa adalah jika hatimu tidak tenang karenanya.

Maka jika hati kita gelisah, waktunya untuk menelaah lebih jauh, mungkin ada dosa yang secara tidak sadar telah kita lakukan.

Kembali ke perbuatan baik.

Berbuat baik itu mudah. Karena sesuai fitrah, maka hati pun akan senang ketika melakukan perbuatan baik. Maka kita termotivasi untuk melakukan perbuatan baik.

Bagaimana jika dinaikkan tingkatnya. Berbuat baik secara kontinyu, rutin. Mulai sulit. Sulitnya adalah melawan rasa bosan. Melawan rasa "nggak ngaruh juga kayaknya".

Yang lebih sulit lagi, berbuat kebaikan, rutin, kontinyu, dan tetap ikhlas.

Apa lagi jika kebaikan itu berhubungan dengan orang lain. Dalam arti kita berbaik hati pada orang lain. Orang lain memperoleh manfaat dari kebaikan hati kita.

Yang menjadi masalah adalah jika timbal balik dari orang tersebut tidak sesuai dengan harapan. Ketika kita mulai berpikir "mbok yao", "tau dirilah", "coba untuk mengerti", "pahami posisimu".

Maka kita sudah berada pada tataran ujian keikhlasan. Kita sudah mulai memikirkan balas budi. Memberi dan harapan menerima.

Padahal ikhlas adalah memberi karena Allah. Hanya karena Allah. Lupakan kita telah memberi. Maka dengan sendirinya kita tidak akan perlu timbal balik.

Lebih jauh lagi, sesungguhnya Allah lah pemegang dan pembolak-balik hati. Bahwa Allah telah memberikan kesempatan untuk berbuat baik, bahwa Allah telah menggerakkan hati kita untuk berbuat baik. Adalah hal yang sungguh-sungguh harus disyukuri. Adalah semata-mata anugrah Allah juga.

Karena itu sebenarnya kita tidak perlu mengakui suatu perbuatan sebagai "hasil karya" kita, maka timbal balik apa pun seharusnya tidak mempengaruhi hati kita. Kita harus bisa tetap melihatnya secara jernih, datar, netral.

Ada kesempatan kebaikan, lakukan. Lupakan.

Apakah saya jadi dimanfaatkan? Tidak perlu dipersoalkan.

Mungkin dengan begitu kita akan lebih ringan untuk tetap ikhlas dalam berbuat baik secara rutin dan kontinyu.

Wednesday, June 2, 2010

Manajemen Ekspektasi

Sedih dan gembira itu sebenarnya reaksi atas selisih antara ekspektasi dan realisasi. Jika realisasi di bawah ekspektasi, maka kita akan sedih. Jika realisasi di atas ekspektasi, maka kita akan gembira.

Faktanya, realisasi tidak dapat dikendalikan. Realisasi terjadi di luar kontrol kita, sesuai dengan hukum sebab akibat yang terjadi berkaitan dengan realisasi tersebut.

Bagaimana dengan ekspektasi?
Seringkali kita anggap ekspektasi juga tidak bisa kita kendalikan. Ekspektasi kita anggap terjadi begitu saja, pada saat kita melakukan suatu aksi.

Apa benar demikian?
Semestinya, idealnya, tidak. Semestinya kita bisa mengendalikan ekspektasi.

Kapan ekspektasi dikendalikan?
Bisa segera setelah kita melakukan aksi. Bisa ketika kita menerima realisasi.

Jika dilakukan segera setelah kita melakukan aksi, maka kita akan lebih siap menerima realisasi paling minimal sekalipun. Maka kita tidak akan perlu bersedih.

Jika dilakukan pada saat kita menerima realisasi, maka sesaat kita sempat bersedih. Tetapi setelah dilakukan setting ulang ekspektasi, kita bisa tidak lagi bersedih. Menjadi netral. Bahkan bisa menjadi gembira.

Lalu di mana kita meletakkan syukur dan sabar?
Dengan manajemen ekspektasi ini, syukur dan sabar bisa lebih mudah kita tempatkan.
Jika manajemen ekspektasi sudah dilakukan segera setelah kita melakukan aksi, sehingga kita siap dengan realisasi seminimal apapun, maka kita pada posisi akan selalu bersyukur dengan kondisi apapun yang kita terima pada realisasi.
Jika manajemen ekspektasi dilakukan setelah kita menerima realisasi, maka di sini peran sabar. Dengan kesabaran kita dapat melakukan setting ulang ekspektasi, mencoba menghitung ulang perbandingannya dengan realisasi, dan terus mengulang loop ini sampai hasilnya positif. Setelah positif, maka kita bisa bersyukur.

Di mana letak ikhlas?
Dengan konstelasi ini, maka letak ikhlas adalah ketika kita berusaha melakukan manajemen ekspektasi. Bahwa ekspektasi kita bukan pada hasil dari aksi. Bahwa aksi itulah yang justru menjadi point bagi kita. Bahwa hanya Dia yang kita jadikan sasaran.

Sambutan anak, penerimaan suami, rekognisi atasan, jika itu yang dijadikan indikator, maka bersiaplah untuk bersedih. Karena itu di luar kontrol kita.

Dengan ikhlas, dengan manajemen ekspektasi yang minimal kepada hasil dari aksi, dengan memusatkan daya kepada pengejawantahan proses dan perwujudan aksi, maka hasil menjadi tidak lagi terlalu berarti. Maka sedih tidak akan terjadi. Maka syukur akan selalu menghiasi hati.

Yang belum masuk adalah, di mana letak harapan, pemikiran positif, yang bagaimanapun adalah doa?Yang justru bisa men-drive realisasi?Ini masih harus dirumuskan. Mungkin pada tulisan berikutnya. Mudah-mudahan.

Ditulis dengan cepat ketika pulang malam dari kantor di tengah kemacetan Jakarta, 2 Juni 2010