Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts

Sunday, March 6, 2011

Wahai Ibu, Kuatlah!

Kemarin anak saya yang kelas 3 dan 5 SD ada acara menginap di sekolah.

Saya selalu sangat gembira menyambut acara ini. Anak-anak belajar mandiri dan mengelola berbagai keperluannya sendiri. Hidup bersama teman dan guru, terpisah dari orang tua yang senantiasa membantu.

Dan yang paling saya suka adalah mereka belajar hidup dalam lingkungan yang tertata secara Islam. Shalat pada waktunya secara berjamaah dan shalat tahajjud.

Dalam beberapa kali acara mabit ini, saya kemungkinan termasuk ibu yang paling cuek. Saya lepaskan mereka pagi hari di rumah berangkat dengan supir, dengan segala perlengkapan menginap. Lalu saya jemput lagi keesokan paginya.

Sedangkan ibu-ibu lain terlihat cukup heboh, mengkhawatirkan bagaimana nanti mereka mandi, apakah mereka memakai baju tangan panjang ketika kegiatan malam, apakah boleh ditengok sesering mungkin, dan sebagainya, dan sebagainya :-)

Sedangkan "intervensi" saya yang paling jauh adalah mengirimkan SMS kepada guru, memastikan anak saya baik-baik saja. Saya belum pernah sampai menengok mereka di sekolah, apa lagi sampai beberapa kali dalam semalam.

Namun itu bukan berarti saya tidak sayang, tidak peduli dengan keadaan anak-anak saya. Justru saya menyayangi mereka dengan memberikan kepercayaan. Saya percaya bahwa mereka bisa mandiri, bahwa mereka bisa mengatur diri sendiri, bisa memutuskan mana yang terbaik untuk mereka dalam skala menginap semalam.

Dan bagi saya, persoalan-persoalan yang dihadapi justru merupakan latihan bagi mereka menghadapi hidup. Bahwa segala sesuatu tidak selalu berjalan mulus.

Bahwa antri untuk mandi memang kadang-kadang terjadi, dan harus dinikmati. Bahwa baju-baju kotor harus dilipat dan dimasukkan ke plastik agar tidak mengotori baju bersih. Bahwa handuk basah harus dipisah dengan baju kering. Bahwa tidur di lantai di ruangan ber-AC itu dingin, dan mereka harus menggunakan kantong tidurnya. Bahwa walaupun ada teman yang berisik, kita harus mencoba untuk tidur.

Bagi saya menginap semalam ini adalah tahap persiapan untuk kemandirian berikutnya. Menginap bermalam-malam, kos, atau sekolah di pesantren. Dan itu tidak lama lagi. Jika dimulai di SMA, untuk anak saya yang kelas 5 SD, artinya 4 tahun lagi. Jika dimulai ketika kuliah, artinya 7 tahun lagi.

Dan finalnya, hidup mandiri selamanya. Juga tidak lama lagi, 12 tahun lagi saja.

Maka, ayolah Ibu, kuatlah. Lepaskan anakmu. Agar dia menjadi manusia yang mandiri, bisa menyelesaikan persoalannya sendiri.

Kita berpacu dengan waktu. Jangan biarkan rasa sayang kita justru menjadi belenggu bagi kemandirian mereka. Kita tidak mungkin akan bisa mendampingi mereka selamanya. Dan juga dalam kondisi yang belum bisa sama sekali kita bayangkan.

Kuatlah Ibu, agar anakmu menjadi manusia yang kuat.

Wednesday, December 1, 2010

Untuk Anakku, Melangkah Menjadi Manusia Mandiri

3 tahun yang lalu
Allah titipkan kau di rahim Mama

Ke mana pun Mama pergi, kau Mama bawa
Apa pun yang Mama makan dan minum, jadi santapanmu juga
Senang dan sedih Mama, jadi senang dan sedihmu juga
Semoga 9 bulan nan indah itu
Adalah awal yang baik untukmu, Nak

9 bulan berlalu
Kau yang mungil Allah hadirkan di dunia
Hadiah ulang tahun terindah buat Mama
Teman dan mainan baru untuk Ayah dan dua kakakmu

Selangkah lagi kau menuju mandiri, Nak

Raga kita sudah terpisah
Namun nyamanmu dalam dekap Mama
Dan tautan raga masih tetap terjalin
Makanan Mama masih jadi satu-satunya sumber makananmu
ASI menjadi penghubung kita, Nak

6 bulan berlalu
Hanya ASI lah makananmu
Walaupun sempat tersentuh susu sapi
Mari kita anggap sebagai prestasi bersama ya, Nak?
Kita berhasil lalui masa ASI Eksklusif * :-)

Selangkah lagi kau menuju mandiri Nak

ASI Mama masih menjadi sumber makananmu
Tapi tidak lagi satu-satunya
Ayah dan Mama masih menggendongmu untuk melihat dunia
Tapi kau sudah mulai bergerak sendiri

Waktu terus berjalan

2 tahun sudah umurmu
Sudah waktunya kau untuk disapih, Nak
Tapi kau masih suka ASI Mama
Mama coba bujuk agar kau mencontoh kakak
Tidak lagi minum ASI, tapi minum air putih dan susu sapi

Tapi kau belum mau, dan Mama pun tak mau memaksa
Kita pun teruskan kebersamaan ya, Nak
"Tusyu Mama" begitu selalu kau minta sebelum tidurmu

Sampai tiba hari itu
Di usiamu yang 2 tahun (sekitar) 3 bulan

Allah bantu kita, Nak
Saat kau batuk pilek, saat lidahmu terasa pahit
Saat "tusyu mama" pun jadi terasa pahit
Kau pun tak mau lagi ASI Mama
Ritual tidur pun berganti, menjadi cukup ditepuk-tepuk
Perpisahan yang begitu mudah

Selangkah lagi kau menuju mandiri, Nak

Berakhir sudah tautan raga kita
Kau sudah bisa bergerak sendiri
Dan kau sudah punya makanan dan minumanmu sendiri

Ada sedikit sedih di hati Mama, karena perpisahan ini
Tapi ini adalah langkahmu, Nak
Langkahmu menjadi manusia mandiri

Mama harus kuat
Karena kau juga harus jadi manusia yang kuat

Kelak kau akan terus melangkah, Nak

Sekarang kau sudah mulai ke luar rumah
Walau hanya seminggu 2 kali selama 3 jam
Kelak akan berubah menjadi 5 hari selama 6 jam
Tapi kau masih pulang ke rumah setiap malam
Kau masih makan apa yang Mama makan juga

Kau akan terus melangkah, Nak

Kelak kau akan ada mulai pergi menginap, walau mungkin hanya semalam
Yang nantinya akan berubah menjadi bermalam-malam
Kau akan putuskan sendiri apa yang akan kau makan
Tapi kau masih perlu Ayah dan Mama untuk membantumu dengan uangnya

Kau akan terus melangkah, Nak

Kelak kau akan tidak lagi tinggal bersama Mama
Kau akan punya kehidupanmu sendiri, penghasilan sendiri
Tempat tinggalmu sendiri, dan makanan minumanmu sendiri

Kau akan terus melangkah, Nak
Melangkah menjadi manusia mandiri

Semoga apa yang Ayah dan Mama berikan
Allah ridhai sebagai sesuatu yang bermakna, untuk kehidupanmu kelak, Nak

Teruslah melangkah, Nak
Doa Mama dan Ayah selalu bersamamu
Semoga Allah senantiasa menunjukkan jalan terbaik untukmu

* untuk my dear boy ketiga
Juga untuk kedua boys kakaknya
Puisi seadanya Mama :-) *

Wednesday, November 24, 2010

A Good Message

Pagi ini saya terima email bagus sekali dari milis asiforbaby. Saya copy paste ya. Semoga bermanfaat :-)

===

This is a powerful message in our modern society. We seemed to have lost our bearing & our sense of direction.

*

One young academically excellent person went to apply for a managerial position in a big company.

He passed the first interview, the director did the last interview, made the last decision.

The director discovered from the CV that the youth's academic achievements were excellent all the way, from the secondary school until the postgraduate research, never had a year when he did not score.

The director asked, "Did you obtain any scholarships in school?"
The youth answered "none".

The director asked, " Was it your father who paid for your school fees?"
The youth answered, "My father passed away when I was one year old, it was my mother who paid for my school fees.

The director asked, " Where did your mother work?"
The youth answered, "My mother worked as clothes cleaner. The director requested the youth to show his hands. The youth showed a pair of hands that were smooth and perfect.

The director asked, " Have you ever helped your mother wash the clothes before?"
The youth answered, "Never, my mother always wanted me to study and read more books. Furthermore, my mother can wash clothes faster than me."

The director said, "I have a request. When you go back today, go and clean your mother's hands, and then see me tomorrow morning.*

The youth felt that his chance of landing the job was high. When he went back, he happily requested his mother to let him clean her hands. His mother felt strange, happy but with mixed feelings, she showed her hands to the kid.

The youth cleaned his mother's hands slowly. His tear fell as he did that. It was the first time he noticed that his mother's hands were so wrinkled, and there were so many bruises in her hands. Some bruises were so painful that his mother shivered when they were cleaned with water.

This was the first time the youth realized that it was this pair of hands that washed the clothes everyday to enable him to pay the school fee. The bruises in the mother's hands were the price that the mother had to pay for his graduation, academic excellence and his future.

After finishing the cleaning of his mother hands, the youth quietly washed all the remaining clothes for his mother.

That night, mother and son talked for a very long time.

Next morning, the youth went to the director's office.

The Director noticed the tears in the youth's eyes, asked: " Can you tell me what have you done and learned yesterday in your house?"

The youth answered, " I cleaned my mother's hand, and also finished cleaning all the remaining clothes"

The Director asked, " please tell me your feelings."

The youth said, Number 1, I know now what is appreciation. Without my mother, there would not be the successful me today. Number 2, by working together and helping my mother, only I now realize how difficult and tough it is to get something done. Number 3, I have come to appreciate the importance and value of family relationship.

The director said, " This is what I am looking for to be my manager. I want to recruit a person who can appreciate the help of others, a person who knows the sufferings of others to get things done, and a person who would not put money as his only goal in life. You are hired."

A child, who has been protected and habitually given whatever he wanted, would develop "entitlement mentality" and would always put himself first. He would be ignorant of his parent's efforts. When he starts work, he assumes that every person must listen to him, and when he becomes a manager, he would never know the sufferings of his employees and would always blame others. For this kind of people, who may be good academically, may be successful for a while, but eventually would not feel sense of achievement. He will grumble and be full of hatred and fight for more. If we are this kind of protective parents, are we really showing love or are we destroying the kid instead?*

You can let your kid live in a big house, eat a good meal, learn piano, watch a big screen TV. But when you are cutting grass, please let them experience it. After a meal, let them wash their plates and bowls together with their brothers and sisters. It is not because you do not have money to hire a maid, but it is because you want to love them in a right way. You want them to understand, no matter how rich their parents are, one day their hair will grow gray, same as the mother of that young person. The most important thing is your kid learns how to appreciate the effort and experience the difficulty and learns the ability to work with others to get
things done. *

Sunday, November 7, 2010

Mendidik Calon Jenderal

Kisah ini saya peroleh dari Mbak Neno Warisman, ketika beberapa tahun yang lalu berceramah di kantor saya. Sangat berkesan, sehingga sampai sekarang saya masih ingat. Mohon izin kepada Mbak Neno untuk saya share, semoga banyak yang dapat memperoleh manfaatnya.

Saya mulai ya kisahnya..

Beberapa puluh tahun yang lalu, di sebuah desa di Jawa Tengah, tinggal seorang Ibu dengan seorang anak laki-lakinya, yang bernama Joko (saya lupa-lupa ingat nama sebenarnya).
Sebagaimana pada umumnya rumah di desa, di belakang rumah itu terdapat kandang ayam peliharaan keluarga. Maka di halaman belakang itu berkeliaranlah ayam-ayam, termasuk kotorannya yang menghiasi seluruh penjuru halaman.

Siang itu Joko sedang bermain di halaman belakang, ketika tiba-tiba seekor ayam hinggap dan membuang kotorannya tepat di paha Joko.

Sontak Joko pun menangis, memanggil ibunya yang saat itu sedang memasak di dapur. "Ibuuuu", begitu teriak Joko berulang-ulang sambil menangis merengek, sampai ibunya datang menghampirinya.
"Ada apa Nak? Ibu kan sedang memasak di dapur untuk kita makan siang nanti. Kamu kenapa Nak?", tanya sang Ibu dengan sabar.
"Iniiiiii", kata Joko, masih menangis merengek, sambil menunjuk ke kotoran ayam yang ada pahanya.
"Ooo, ada kotoran ayam ya? Nih, Ibu bersihkan ya", kata sang Ibu sambil menyingkirkan kotoran ayam itu ke tanah halaman.
"Tuh, sudah bersih, menangisnya berhenti ya", kata sang Ibu.

Sang Ibu pun kembali ke dapur, mencuci tangan, untuk kemudian melanjutkan memasak.
Belum selesai Ibu Joko mencuci tangan, terdengar lagi suara Joko.
"Ibuuuuu", teriak Joko lagi, berulang-ulang, sambil menangis merengek lagi.
Sang Ibu pun kembali menghampiri Joko.
"Ada apa lagi Nak? Ada kotoran ayam lagi?" tanya Ibu Joko sambil mencari-cari di mana kotoran ayam itu hinggap kali ini.
"Bukaaan, kembalikan lagi kotoran ayamnyaaa", teriak Joko, sambil menangis merengek.
Ibu normal pasti naik pitam dan langsung menolak permintaan aneh seperti itu. Tapi tidak dengan Ibu Joko. Dengan sabar dia ikuti kemauan anaknya.
"O ya? Mau dikembalikan lagi? Ya sudah, nih, Ibu kembalikan lagi ya." kata Ibu Joko sambil mengambil kembali kotoran ayam tadi dari tanah halaman, dan meletakkannya di paha Joko.
"Sudah ya, sekarang Ibu mau masak lagi." Ibu Joko pun kembali ke dapur, mengulang mencuci tangan, dan bersiap-siap kembali memasak.

Belum sempat Ibu Joko mulai memasak, terdengar lagi suara Joko.
"Ibuuuuu", untuk ketiga kalinya Joko berteriak, berulang-ulang, sambil menangis merengek.
Ibu normal biasanya sudah akan ada dalam posisi sangat naik pitam, meracau sana-sini, kesal, karena berkali-kali dipanggil untuk hal yang tidak penting, di tengah kesibukan yang sedang dilakukan.
Tapi apa yang dilakukan Ibu Joko? Dia tetap sabar, dan kembali menghampiri Joko, sama seperti reaksinya ketika mendengar teriakan Joko yang pertama.
"Lho, ada apa lagi Joko?" tanya sang Ibu dengan tetap tenang.
"Bentuknya kok bedaaaa" teriak Joko, sambil menangis merengek.

Wah, sungguh hal yang mustahil. Bagaimana mungkin mengembalikan kotoran ayam seperti bentuknya semula?
Ibu normal biasanya akan marah besar, dan mulai memberikan ceramah tentang kemustahilan itu.
Apa yang dilakukan Ibu Joko?
Ibu Joko hanya berkata, "Joko, Joko, mudah-mudahan kamu kalau besar nanti jadi Jenderal ya. Dari kecil sudah pintar sekali memberi perintah".

Dan Anda tahu apa yang terjadi pada Joko? Ketika Pak Joko menceritakan kisah ini pada Mbak Neno, beliau sudah menjadi Jenderal bintang tiga. Subhanallah.

Betapa kekuatan kesabaran dan doa seorang Ibu, akan membuahkan hasil yang sangat gemilang di masa depan.

Beberapa hal yang bisa kita petik untuk kita teladani dari Ibu Joko adalah :
1. Sabar, sabar, sabar. Pada dasarnya kita pasti, sekali lagi pasti, bisa untuk tetap bersabar.
2. Cari sisi positif dari hal yang dilakukan anak. Menyalahkan anak seringkali justru menjadi kontra produktif, membuat anak menjadi kurang berani. Hargai semua yang anak lakukan dan inginkan.
3. Berdoa, berdoa, berdoa. Doa adalah harapan. Doa bisa membantu terwujudnya kenyataan. Hati-hati dengan ucapan negatif, karena juga bisa menjadi doa yang buruk.

Semoga kita semua dapat meneladani kesabaran Ibu Joko, dan mendidik anak-anak kita menjadi pemimpin bangsa. Amin :-)

Kisah Anak Menjual Sapi (3)

Lanjutan kisah dari pengajian Ramadhan dua bulan yang lalu, disampaikan oleh Ust. Adiwarman Karim, tentang seorang ibu solehah dan anaknya yang soleh yang sedang berusaha menjual seekor sapi.

Keesokan paginya, sang Ibu berkata lagi kepada anaknya, ”Nak, tolong kau jualkan sapi ini ke pasar, kau boleh jual 1.000 atau 2.000 dirham.”

Sang anak pun menyanggupi perintah ibunya, dan berangkat menuju ke pasar.

Sampai di lokasi pasar, ternyata hari itu pasar tutup, sehingga sang anak tidak lagi bisa berjualan.

Sambil menuju pulang, sang anak berjumpa dengan seorang lelaki.

Sang lelaki yang rupanya adalah setan yang sedang menyamar, berkata kepada sang anak, ”Nak, apakah akan kau jual sapi itu?”
Sang anak pun berkata kepada lelaki tersebut, ”Ibu meminta saya untuk menjual sapi ini kepada Bapak seharga 1.000 atau 2.000 dirham”

Lelaki itu pun berkata, ”Nak, kulihat kau sudah 3 kali bolak balik dari rumahmu yang jauh ke pasar ini. Bagaimana jika kautawarkan kepadamu suatu hal. Kubeli sapi ini seharga 2.000 dirham, tapi kausampaikan kepada ibumu, bahwa terjual seharga 1.000 dirham. 1.000 dirham lagi kauambil untukmu sendiri.”

Sang anak, dengan keterbatasan pikirnya, menjawab, ”Tidak Pak. Bagaimana mungkin aku akan membohongi ibuku yang sudah melahirkan dan membesarkanku?”

Dan iapun kembali ke rumah, bersama sapi yang belum juga terjual.

Pulanglah sang anak ke rumahnya. Ibunya terkejut melihat sapinya belum terjual. Dia pun bertanya, mengapa hal itu bisa terjadi, dan apakah memang tidak ada orang yang bersedia membeli sapi mereka.

Maka berkatalah sang anak, ”Ibu, hari ini pasar tutup maka aku tidak bisa berjualan ke pasar. Di perjalanan pulang, sebenarnya aku berjumpa dengan seorang Bapak yang bersedia membeli sapi ini seharga 2.000 dirham. Namun ia memintaku untuk membohongimu, dan berkata bahwa sapi ini terjual 1.000 dirham, dan mengambil 1.000 dirham untukku sendiri. Bagaimana mungkin aku akan membohongi Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkanku?”

Sang Ibu yang soleh pun terharu, dan berkata, ”It’s OK my son. Besok kau coba jual lagi ya Nak.”

Bertepatan dengan saat itu, datanglah sekelompok orang ke rumah tersebut. Kelompok orang ini ternyata adalah Bani Israil yang sedang mencari sapi betina. Sapi ini ternyata sangat cocok dengan yang mereka cari. Maka mereka pun membeli sapi itu seharga emas seberat sapi tersebut.

Subhanallah. Kesalihan, ketaatan, dan kesabaran yang membuahkan hasil gemilang.

Kisah Anak Menjual Sapi (2)

Lanjutan kisah dari pengajian Ramadhan dua bulan yang lalu, disampaikan oleh Ust. Adiwarman Karim, tentang seorang ibu solehah dan anaknya yang soleh yang berusaha menjual seekor sapi.

Keesokan paginya, sang Ibu berkata lagi kepada anaknya, ”Nak, tolong kau jualkan sapi ini, seharga 2.000 dirham, kepada orang yang kautemui kemarin, atau ke pasar.”

Sang anak pun menyanggupi perintah ibunya, dan berangkat menuju ke pasar.

Dalam perjalanan menuju ke pasar, sang anak berjumpa dengan seorang lelaki yang kemarin.

Sang anak pun berkata kepada lelaki tersebut, ”Pak, Ibu meminta saya untuk menjual sapi ini kepada Bapak seharga 2.000 dirham yang Bapak minta kemarin. Apakah Bapak bersedia?”

Lelaki itu pun berkata, ”Wah, maaf Nak. Kemarin aku sudah membeli sapi. Tapi kau coba saja jual sapimu itu ke pasar.”

Sang anak pun melanjutkan perjalanannya ke pasar. Di pasar, harga sapi 2.000 dirham tersebut tentunya berada di atas harga normal, maka orang tidak ada yang bersedia membelinya, kecuali dengan harga 1.000 dirham. Dan sang anak tidak bersedia menjual sapinya di harga tersebut.

Sampai tibalah sore hari, sapi itu tidak berhasil terjual.

Pulanglah sang anak ke rumahnya. Ibunya terkejut melihat sapinya belum terjual. Dia pun bertanya, mengapa hal itu bisa terjadi, dan apakah memang tidak ada orang yang bersedia membeli sapi mereka.

Maka berkatalah sang anak, ”Ibu, Bapak yang kemarin sudah tidak lagi membutuhkan sapi. Di pasar, ada orang yang mau membeli sapi kita. Tapi harga yang mereka minta adalah 1.000 dirham. Padahal Ibu memintaku untuk menjual seharga 2.000 dirham. Maka sapi ini tidak aku jual.”

Sekali lagi, Ibu yang soleh ini tidak marah, dia berkata, ”It’s OK my son. Besok kau coba jual lagi ya Nak.”

-- bersambung --

Kisah Anak Menjual Sapi (1)

Dari pengajian Ramadhan dua bulan yang lalu, disampaikan oleh Ust. Adiwarman Karim. Mudah-mudahan beliau berkenan kisah ini saya tuliskan. Saya coba tuliskan sejauh yang saya ingat :-)

Ada dua kisah yang disampaikan oleh beliau.

Kisah pertama tentang Bani Israil dan pertanyaan-pertanyaannya kepada Allah melalui Nabi Musa, tentang perintah mencari sapi betina (Al Baqarah 67-71).

Kisah kedua, tentang seorang ibu solehah dan anaknya yang soleh, yang sedang berusaha menjual seekor sapi.

Dikisahkan ibu dan anak ini hanya tinggal berdua saja di sebuah dusun. Sang anak, walaupun soleh, sedikit kurang pintar. Satu-satunya harta milik mereka saat itu adalah seekor sapi. Karena membutuhkan uang, maka sang ibu meminta anaknya untuk menjualkan sapi mereka ke pasar.

Sang Ibu berkata pada anaknya, ”Nak, tolong kau jualkan sapi ini ke pasar, seharga 1.000 dirham.”

Sang anak pun menyanggupi perintah ibunya, dan berangkat menuju ke pasar.

Dalam perjalanan menuju ke pasar, sang anak berjumpa dengan seorang lelaki. Melihat sapi yang sangat bagus tersebut, lelaki itu pun ingin membelinya.

Bertanyalah ia kepada sang anak, ”Nak, hendak ke manakah engkau. Sapi yang kaubawa itu, apakah akan kaujual?”

Sang anak pun menjawab, ”Saya hendak ke pasar Pak. Ya, sapi ini akan saya jual, atas perintah ibu saya.”

Lelaki itu pun berkata lagi, ”Sapimu bagus sekali Nak. Begini, kau tidak perlu ke pasar, aku akan beli sapimu seharga 2.000 dirham.”

Sang anak, dengan keterbatasan kemampuan berpikirnya menjawab, ”Maaf Pak, sapi ini diperintahkan ibu saya untuk dijual seharga 1.000 dirham, saya tidak akan menjualnya seharga 2.000 dirham. Biarlah saya tetap jual di pasar.”

Dengan kebingungan, sang lelaki pun membiarkan sang anak meneruskan perjalanannya ke pasar. Di pasar, berita telah tersiar bahwa sapi tersebut tidak dapat dibeli seharga 2.000 dirham, maka orang pun menawar lebih tinggi, dan sang anak pun semakin tidak bersedia menjual.

Sampai tibalah sore hari, sapi itu tidak berhasil terjual.

Pulanglah sang anak ke rumahnya. Ibunya terkejut melihat sapinya belum terjual. Dia pun bertanya, mengapa hal itu bisa terjadi, dan apakah memang tidak ada orang yang bersedia membeli sapi mereka.

Maka berkatalah sang anak, ”Ibu, sebenarnya tadi ada orang yang mau membeli sapi kita. Tapi harga yang ia minta adalah 2.000 dirham. Padahal Ibu memintaku untuk menjual seharga 1.000 dirham. Maka sapi ini tidak aku jual padanya.”

Ibu yang soleh ini tidak marah, dia berkata (sesuai yang disampaikan Ust. Adiwarman secara kocak) ”It’s OK my son. Besok kau coba jual lagi ya Nak.”

-- bersambung --

Monday, September 20, 2010

Menghadapi Protes Anak ketika Makanan Favoritnya Habis :-)

Anak saya yang berusia sekitar dua tahun, termasuk anak yang suka makan. Banyak pilihan makanan yang dia suka.

Dan ketika dia suka suatu makanan, setiap habis di piringnya, dia akan minta lagi. Kita berikan lagi di piringnya, nanti habis lagi, dia minta lagi. Ketika dari panci sumbernya sudah benar-benar habis, dia akan menangis karena tidak bisa minta lagi.

Apakah Moms sering juga menghadapi masalah yang sama? :-)

Beberapa tahun lalu dari Pak Taufan Surana (sudah lama sekali saya tidak berinteraksi dengan beliau, semoga Allah senantiasa melindungi beliau), ada saran menghadapi marah anak. Yaitu, sampaikan segala sesuatu, segala konsekuensi, beberapa waktu sebelum akan terjadi. Jangan sampaikan segala sesuatu secara tiba-tiba.

Jadi dalam kasus makanan habis ini, ketika masih tersisa sekitar 3-4 potong, kita sampaikan, ”Nak, sekarang tinggal 4 potong ya, nanti kalau habis, kita makannya selesai ya.” Demikian seterusnya sampai ketika makanan tersebut benar-benar habis, anak kita sudah siap.

Itu cara pertama.

Namun cara ini kadang-kadang juga tidak efektif. Begitu kita sampaikan bahwa nanti akan habis, anak sudah terlanjur marah :-)

Ada cara kedua :-)

Di sini kita gunakan sisi psikologis anak yang senang dengan keberhasilan dan pencapaian.

Maka kita buat situasi, seolah-olah menghabiskan makanan itu adalah prestasi buat dia. Jadi kita sampaikan ”Wah, Adik sudah banyak nih makan wortelnya! Sekarang tinggal 3 lagi, sebentar lagi habis! Horeeee!” Dan kita bersorak seheboh-hebohnya, ketika wortel itu benar-benar habis :-) Biasanya anak lalu menjadi sangat gembira, dan lupa bahwa dia mau minta lagi :-)

Tapi cara ini bisa juga tidak efektif. Mirip dengan yang tadi, ketika kita bilang bahwa akan habis, dia juga sudah terlanjur marah :-)

Solusi terakhir?
Ketika dia tetap marah dengan dengan kedua metode tadi, kita gunakan metode klasik, mengalihkan perhatian ke hal lain :-)

Demikian Moms, semoga bermanfaat ya :-)

Ketika Ibu Tidak Lagi Bisa Multitasking

Kebanyakan ibu biasanya memiliki kemampuan untuk multitasking, yaitu mengerjakan berbagai hal dalam satu waktu.

Menelepon sambil mengecek masakan sambil mencuci piring.
Menggendong anak, sambil menyapu halaman, sambil ngobrol dengan tetangga.
Mengganti popok, sambil membereskan mainan, sambil menjelaskan hitungan matematika untuk anak yang paling besar.

Hanya, jika salah satu aspek sedang membutuhkan konsentrasi cukup tinggi, biasanya kemampuan multitasking ini lalu jatuh menurun. Drop.

Misalnya ketika anak yang kecil sedang rewel dan menangis saat dipakaikan popok. Maka saat ini pikiran kita sebagai ibu akan terfokus untuk membujuk anak rewel tersebut. Berbagai cara dilakukan, berbagai cerita disampaikan, berbagai barang ditunjukkan, agar anak lupa, teralihkan perhatiannya, dan akhirnya mau dipakaikan popok.

Jika pada saat ini tiba-tiba anak yang besar memanggil kita, karena kesulitan dengan PR-nya. Jika kita coba paksakan untuk multitasking, maka kedua pekerjaan tersebut tidak selesai dengan baik. Si adik tetap rewel, kita pun tidak bisa berpikir untuk menjawab PR si kakak.

Kadang lalu kita menjadi kesal, dan sedikit "menyalak", meminta si kakak untuk diam dulu, karena kita sedang fokus dengan si adik.

Pernahkah kita bayangkan perasaan anak kita saat itu? Sedih karena kita "menyalak" tadi. Merasa tersingkirkan, karena kita tidak memperhatikan masalah mereka. Jika ini terjadi sekali saja, mungkin tidak masalah. Tapi jika berkali-kali, hal ini akan membuat mereka merasa menjadi anak yang terabaikan. Apa lagi jika anak kita termasuk anak yang sensitif.

Lalu bagaimana sebaiknya?

Ada baiknya kita upayakan untuk menahan diri, agar tidak ”menyalak”. Di antara kerewelan dan tangis si adik, ketika kakak memanggil, tarik nafas panjang. Bicara dengan tenang, tersenyum pada kakak, dan sampaikan, bahwa kita sedang bereskan dulu pemakaian popok adik. Nanti jika telah selesai, kita akan bicara dengan mereka. Sulit? Ya, memang sangat sulit :-) Tapi mudah-mudahan bukan mustahil :-)

Dan, jika suasana sedang tenang, ada baiknya dibahas dan disepakati dengan anak-anak yang besar, bagaimana sebaiknya jika mereka ada masalah, padahal ibunya sedang fokus dengan masalah lain. Mungkin metodenya antara lain bisa dengan cara mereka menulis pesan yang lalu ditempelkan di message board, atau tulis pesan via yahoo messenger/email/SMS, atau tunggu sampai masalah yang dihadapi ibu selesai. Dengan kesepakatan, biasanya anak akan lebih mudah untuk bekerja sama.

Sementara demikian, solusi yang mudah-mudahan efektif, dan tidak terlalu sulit untuk diimplementasikan :-)

Apa Moms punya saran lain? Silakan ditambahkan ya.. :-)

Saturday, August 7, 2010

Kala Meletup Menghadapi Serbuan Anak

Tadi malam saya menghadapi kondisi yang lumayan kompleks. Kalau kata anak saya yang paling kecil, kom-pe-lek-s :-)

Coba sedikit dibayangkan dulu ilustrasinya ya :-)

Saya pulang dari kantor, untungnya dengan supir, jadi nggak secapek kalau nyetir sendiri sih, tapi tetep aja capek.

Jadi saya pulang kantor, dari kantor sekitar jam 17.45. Dari kantor saya ke rumah, biasanya ditempuh dalam waktu 45 menit, maksimal 1 jam deh. Hari itu, 2 jam! Itu pun sudah dengan mencari jalan-jalan tikus dan melambung menghindari simpul-simpul macet.

Sampai di rumah, langsung mandi, solat, makan, lalu bergabung dengan anak-anak di kamarnya.

Dan ketiga anak saya langsung semuanya menyerbu.
Yang paling kecil minta menyusu, dua yang besar minta dibantu membuat PR. Plus ada teman sesama ibu, tanya juga tentang PR anaknya lewat BBM.

Saya yang prosesornya baru saja kepanasan, overload karena kelamaan kena macet plus cari rute jalan tikus, lalu diminta multitasking menyusui sambil menjelaskan 2 PR, mulai meletup-letup.

Anak-anak saya, yang perasaannya memang sensitif seperti mamanya, hehe, langsung mengkeret. Dan karena mereka anak baik, mereka nggak ngambek. Hanya lalu menjauh.

Sedikit penyesalan muncul. Tapi berhubung prosesor masih panas, kalah tuh penyesalan. Ya udahlah, mau gimana lagi. Memang capek, boleh dong marah dikit. Nobody's perfect.

Sampai tadi pagi. Ketika dalam perjalanan ke kantor, suasana tenang, saya memikirkan kembali yang terjadi kemarin.

Seharusnya saya amat sangat patut bersyukur. Dan dalam syukur itu seharusnya tidak ada ruang untuk kesal, apa lagi marah.

Anak-anak datang menyerbu bukankah artinya anak-anak senang dekat dengan kita? Ini modal yang sangat penting untuk tumbuh kembangnya terutama di masa-masa kritis nanti.

Anak-anak datang bertanya tentang PR-nya bukankah berarti mereka anak-anak yang rajin, yang sedang berusaha yang terbaik menyelesaikan tugasnya? Daripada mereka yang harus dipaksa-paksa untuk membuat PR? Bukankah itu artinya mereka anak-anak yang bertanggung jawab? Itu juga adalah modal untuk mereka di masa depan.

Dan bahwa mereka bisa membuat PR, bisa bertanya, bisa menyerbu kita, itu artinya mereka sehat wal afiat, tak kurang suatu apa.

Memikirkan itu semua, penyesalan yang tadi malam hanya sedikit, langsung berubah menjadi setinggi bukit. Dan saya bertekad untuk memperbaikinya malam nanti. Secapek apa pun, saya harus tersenyum, dan meladeni anak-anak saya, semuanya :-)

Thursday, July 22, 2010

My Lego Network, Coba Deh!

Masih ingat Lego? Mainan merakit yang populer di tahun 80-an?

Di era internet ini, Lego membuat www.lego.com.
Yah itu mah biasa kali yah? Website yang isinya company profile dan list product?

Oooooh tidak tidak.. (Telenovela mode on hehe..)

Pertama memang ada list produk. Ditampilkan berbagai product stream. Menarik. Untuk lego robot, bisa dicoba programming-nya.

Ada forum. Para member bisa diskusi tentang berbagai produk lego, saling memberikan rekomendasi ataupun keluhan.

Ada lego digital designer. Kita bisa membuat rakitan lego secara digital. Bikin rumah, robot, pesawat, bebas. Dengan lego brick yang beraneka ragam dan tak terbatas.

Dan yang paling keren, yang jadi judul tulisan ini, My Lego Network :-D

My Lego Network adalah game online yang didukung oleh jejaring sosial dengan blogging (meskipun nggak nulis sih, hanya memantain web page).

Inti permainannya adalah melakukan tugas-tugas yang diberikan oleh networker, agar kita naik level yang disebut "rank".

Tugas-tugas disampaikan melalui email. Tugas-tugasnya biasanya adalah membuat suatu barang (contohnya red lego brick, apple, honey pot), yang dalam prosesnya bisa dilakukan melalui pertukaran dengan teman, membuat "kebun/pabrik" di page lalu "memanen", atau membuat dari "blueprint". Beberapa barang perlu kita kumpulkan dulu, baru bisa kita buat dengan menggunakan "blueprint". Di situlah gunanya inventory.

Serunya, adalah menunggu panen, mencari teman untuk trade, menyusun strategi penggunaan page untuk bisa panen maksimal.

Jadi di sini, anak-anak berlatih :
1. Bersabar. Panen di kebun tidak bisa seketika. Ada yang sehari baru bisa panen 5, 10, tapi ada juga yang 50.
2. Berkolaborasi. Beberapa tugas membutuhkan bantuan teman untuk "mengklik" di kebun kita. Dan pada beberapa tugas, kita bisa bertukar barang dengan teman.
3, Menyusun strategi. Page kita terbatas, ada beberapa modul kebun yang harus kita atur agar hasil panen kita maksimal.
4. Analisis. Petunjuk yang disampaikan melalui email perlu dipahami dan dianalisis, agar kita dapat melakukan tugas dengan benar.
5. Mencari informasi. Beberapa tahap kurang jelas tugas yang harus dilakukan. Untuk itu perlu mencari informasi di forum, atau bertanya pada teman).
6. Berkreasi. Salah satu tugas memerlukan upload kreasi lego kita, baru dapat dipanen.
7. Bahasa Inggris :-) Seluruh email, forum, command di page adalah dalam bahasa Inggris. Anak-anak jadi terlatih untuk membaca dalam bahasa Inggris, dan kalau aktif di forum, juga berpendapat dalam bahasa Inggris.
8. Internet tools. Adanya email, forum, web page, membuat anak terlatih dengan internet tools.

Kok kayaknya rumit banget? Nggak koook.. Game ini dirancang untuk anak-anak, jadi tingkat kerumitannya sedang-sedang saja :-)

Oya, supaya bisa main dengan lancar, ada dua prasyaratnya sih. Pertama, akses internet yang cukup cepat. Karena di sini banyak animasi, pergerakan-pergerakan gambar, yang bikin bete dan ngehang kalo akses internetnya lambat.
Kedua, sedikiiit kemampuan Bahasa Inggris, supaya nggak bingung-bingung banget baca petunjuk via email dari networker.

Kok saya tau persis apa yang terjadi di game itu? Hehehe, saya diajak untuk jadi member juga oleh anak saya. Dan sekarang sedang kerajingan, sudah hampir sampai rank 3. Lumayan buat iseng-iseng.

Yuk ajak anak-anak main. Ayah Ibunya juga boleh. Add saya ya, puzzlegirl55 :-)

Let's brick :-D

Sunday, July 18, 2010

Selamat Datang Kembali Lego

Sebelum dimulai, analisis ini sebagian besar berdasarkan pengamatan saya atas Lego. Ditambah dengan sedikit studi literatur di internet tentang perkembangan perusahaan Lego. Kalau ada yang kurang tepat, mohon dimaafkan :-)

Bagi mereka yang di tahun 2010-an ini berusia sekitar 30-40 tahun dan di masa kecilnya hidup di kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Medan, Surabaya, tentunya sudah tidak asing lagi dengan mainan Lego. Mainan Lego menyertai pertumbuhan kita sampai kira-kira usia SMP. Merakit berbagai bentuk, membuat rumah-rumahan, mobil-mobilan, baik sesuai contoh, atau karangan kita sendiri. Senangnya :-)

Dengan munculnya game console dan game komputer, pamor Lego sempat menurun drastis. Tidak dapat disangkal, dibandingkan dengan PS, Nintendo, dan game komputer yang hingar bingar dan banyak sekali variasinya, main Lego menjadi terasa "kok gini aja sih".

Tanda-tanda hilangnya Lego terasa di toko-toko mainan. Lego menjadi sangat langka, stoknya jauh berkurang, dan berada di sudut-sudut yang tidak menarik.

Entah memang demikian di seluruh dunia, atau pas di toko yang saya kunjungi ya? :-)

Saya sempat sedih, apakah Lego akan mati? Sayang sekali jika mati. Dengan main Lego, kita berlatih untuk sabar, tekun, sekaligus kreatif. Kita bisa bermain sesuai contoh, tapi juga bisa berkreasi sesuai imajinasi. Dua sisi yang sangat positif bukan?

Tapi, Lego ternyata hebat. Mereka berhasil come back.

Bagaimana caranya? Apa bisa mainan Lego bersaing dengan game komputer dan game console?

Di sinilah kuncinya, ketika tidak bisa bersaing, maka berkolaborasilah.

Maka Lego pun mulai masuk ke arena game console dan membuat www.lego.com. Dari sana, anak-anak kembali diperkenalkan dengan serunya merakit Lego. Maka setelah bermain game-nya, mereka pun tertarik untuk mencari Lego untuk dirakit. Ide yang cerdas!

www.lego.com pun dikemas sangat menarik. Diawali dengan mendaftar sebagai member, anak-anak diberi kesempatan untuk meng-upload kreasi Lego mereka di dunia nyata, dan mendapatkan point dari sana, yang berguna untuk mencapai target-target pada game online.

Ada fasilitas email, message board, forum, page untuk setiap member. Dengan tugas-tugas yang diberikan oleh admin yang disebut Networker.

Ada juga fasilitas desain digital, yaitu anak-anak dapat membuat desain Lego sesuka mereka, dengan berbagai komponen Lego. Desain digital ini dapat dipesan komponennya ke Lego, dan dibangun di dunia nyata.

Di sini juga ada fasilitas untuk mencoba membuat program robot Lego, yaitu Lego Mindstorm.

Dan sekarang Lego pun mulai jeli, untuk bekerja sama dengan produsen film kartun. Karakter-karakter kartun dibuat menjadi rakitan lego. Anak-anak pun kembali suka dengan lego. Termasuk anak saya :-)

Selamat datang kembali Lego :-)

Oya saya bukan karyawan Lego lho ya, hanya pehobi dan simpatisan saja :-)

Saturday, July 17, 2010

Anak-anak Belajar Membuat Robot, Seru!

Dimulai dari browsing di www.lego.com, anak saya menemukan informasi produk Lego Mindstorm, yaitu lego robotik.

Kerennya (atau pintarnya www.lego.com) di sana diberikan contoh beberapa jenis robot (yang sudah jadi tentunya) dan anak-anak bisa mencoba membuat program untuk robot itu. Seru!

Tinggal klik-klik ikon visual programming-nya (ada contohnya), program di-run, lalu ada visualisasi robot melakukan perintah sesuai program (video dari robot tersebut). Keren kan?

Dari situlah anak-anak saya akhirnya tertarik untuk belajar membuat robot.

Maka sayapun mulai browsing mencari sekolah atau kursus robot di Jakarta.

Cukup sulit juga. Sekitar dua tahun lalu saya ingat ada tempat belajar robot di Gramedia Matraman. Tapi saya cari di Mbah Google tidak ada.

Ketemu satu penyelenggara kursus, lokasinya jauh, di Kelapa Gading. Ada lagi yang lain, di Surabaya. Sampai akhirnya ketemu, di Senayan City.

Minggu lalu kami coba ke sana, seruuu!

Karena baru pertama kali datang, belum langsung ke Lego Mindstorm, tapi Lego Education dulu. Tapi sudah cukup keren :-) Awalnya lego dirakit dulu, termasuk motor-motor penggeraknya. Contoh perakitan diikuti dari program di komputer. Setelah rakitan selesai, USB pada rakitan dimasukkan ke komputer, mulai dengan visual programming. Programming-nya masih ada contohnya, tetapi sambil dijelaskan oleh pembimbing, apa arti dari masing-masing blok program itu. Program dijalankan, robot pun bergerak, kereeeen!

Ada robot penyepak bola, pemutar gasing, singa mengaum, buaya membuka mulut, dan desain-desain lainnya. Lucu-lucu, tapi robot gitu loh :-D

Maka, sejak minggu itu, tema kami setiap akhir minggu adalah kursus robot. Mudah-mudahan anak-anak saya tetap konsisten menjalani kursusnya, dan bisa menjadi pembuat robot hebat dari Indonesia :-)

Game Internet untuk Anak-anak (dan Ayah Ibunya :-))

Beberapa bulan terakhir, 2 anak saya yang besar sedang hobi main game online di internet.

Awalnya dari nonton film kartun di TV kabel, ada alamat website-nya. Iseng-iseng mereka coba masuk. Ada membership-nya, mereka coba sign up. Di sana ternyata ada berbagai game online yang seru!

Ada kompetisi membuat film kartun. Jadi mereka harus membuat script kartun yang isinya tinggal dipilih-pilih, dibuat cerita, buat beberapa teks, isi dengan pilihan-pilihan suara, submit.

Ada game creator. Jadi di sini mereka justru bukan main game, tapi membuat game. Ada berbagai tools yang tinggal dipilih, siapa tokohnya, bagaimana perjalanan game-nya, serta bagaimana menyusun bonus dan rintangannya. Selesai, submit. Nanti bisa terlihat sudah berapa orang di internet yang memainkan game kita, dan berapa mereka memberi rate.

Ada lagi kompetisi sepak bola. Jadi mereka membuat tim dengan teman-teman yang ada di network tersebut, mendaftar ke sebuah kompetisi, lalu akan muncul jadwal pertandingan. Pertandingan hanya bisa terjadi jika perwakilan kedua tim ada yang online. Jika dalam dua hari tidak online, maka dianggap kalah.

Ada lagi permainan yang menuntut kesabaran dan juga ketelitian. Jadi di game ini, ada target dan level-level yang harus dicapai. Untuk mencapai target-target itu, ada petunjuk-petunjuk yang diberikan dalam email dari admin website. Salah satu tugasnya adalah mereka juga harus membuat sendiri halaman website, men-setup-nya, dan di situ mereka bisa membuat tugas-tugas dan melakukan "panen" atas tugas-tugas tersebut setiap harinya. Mereka juga harus berteman dengan beberapa admin dan teman sesama peserta, karena ada beberapa tugas yang memerlukan bantuan dari teman-teman tersebut. Nah kalau game yang ini, saya juga suka :-D

Ternyata, game anak-anak di internet itu banyak juga yang bermanfaat bukan? Meningkatkan kreativitas, mengasah ketekunan, membiasakan komunikasi dalam bahasa Inggris, terbiasa berkenalan dengan teman-teman di seluruh dunia, terbiasa dengan berbagai aplikasi di internet seperti search, email, chat, forum, message board, bahkan blog. Dan kemampuan ini akan sangat membantu ketika mereka diberi tugas dari sekolah, dan diminta untuk mencari di internet.

Agar hasilnya optimal, ada beberapa kualifikasi yang diperlukan :
1. Anak-anak harus berkomitmen bahwa mereka hanya boleh mengakes website anak-anak. Jika ada yang aneh, harus komit untuk langsung ditutup.
2. Bisa berbahasa Inggris dasar, karena berbagai website penyedia game tersebut merupakan website internasional.
3. Bagi orang tua, sedapat mungkin carilah akses internet yang unlimited. Jika aksesnya bukan unlimited, harus dibuat kesepakatan batas waktu bermain setiap harinya.
4. Walaupun akses internet unlimited, sebaiknya tetap ada batas waktu bermain agar anak juga melakukan aktivitas fisik lainnya.

Selamat mendampingi (dan ikutan) anak-anak bermain di internet :-)