Showing posts with label hidup. Show all posts
Showing posts with label hidup. Show all posts

Monday, April 11, 2011

Mimpi

Katanya jika kita punya mimpi, sebaiknya kita deskripsikan dengan detil, lebih baik lagi kalau dituliskan. Bagaimana pun mimpi adalah harapan, dan harapan adalah doa, dan doa dapat memudahkan terwujudnya kenyataan.

Maka, hari ini saya akan tuliskan mimpi saya, untuk di hari tua nanti :-) Ceritanya saya sudah berusia 50 tahun :-) Anak-anak saya sudah berusia 22 tahun, 21 tahun, dan 14 tahun. Satu anak kuliah di Saudi Arabia, satu di Bandung, satu sekolah boarding di Tangerang.

Saya sendiri sudah sekitar 10 tahun punya perusahaan yang cukup besar, bergerak di bidang kesehatan alami, dengan karyawan sekitar 2000 orang. Suami saya sudah memiliki usaha sendiri juga, setelah berhenti terhormat sebagai Direktur Utama di perusahaan tempat dia bekerja. Dia juga aktif di berbagai organisasi sosial. Anak-anak saya juga sudah memiliki bisnisnya masing-masing, yang dijalankan sembari sekolah, melalui internet.

Saya dan suami sudah tidak sesibuk ketika masih muda, dan suami sedang rajin-rajinnya mendekatkan diri kepada Allah. Dia sudah hafal 20 juz, berusaha menyusul saya yang sudah hafal lebih dari 20 juz. Saya mendampingi suami shalat 5 waktu di masjid dekat rumah, yang juga dekat dengan kantor kami masing-masing.

Sebulan sekali kami menengok anak saya Saudi Arabia, dan menikmati shalat di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Sebulan sekali juga kami menengok ke Bandung dan Tangerang, atau mereka yang pulang ke rumah kami.

Hehehe, sekian dulu mimpi sore ini, mohon doanya semoga menjadi kenyataan :-)

Monday, December 13, 2010

Teratur vs Santai

Mari kita bayangkan dua orang ini. Si A dan si B.

Si A adalah orang yang memang sulit untuk berkomitmen. Serba santai. Sulit untuk berdisiplin. Sulit untuk melakukan segala sesuatu yang sudah disepakati. Aktivitas dilakukan tanpa rencana, sesuai kehendak, dan sering kali ditambah dengan sifat pelupa.

Sedangkan si B adalah orang yang disiplin dan teratur, semua kegiatan terencana, dengan daya ingat yang kuat.

Jika mereka bertemu dalam suatu urusan, maka kemungkinan besar akan terjadi konflik :-)

Seperti yang saya alami sekarang :-)
Saya beri ilustrasinya ya, dengan kasus dan orang yang berbeda tentunya :-)

Misalnya si A, yang meminjam barang kepunyaan si B, toples misalnya. Si B meminjamkan satu toples yang terbaik, dengan catatan agar dikembalikan keesokan harinya, karena toples itu akan digunakan oleh Ibunya untuk acara arisan.

Di hari yang dijanjikan, ternyata si A tidak datang mengembalikan, si B menghubungi pun tidak ada jawaban.

Si B sangat kesal dengan kondisi ini, karena rencananya berantakan.

Bagi saya sendiri, rasanya seperti mau meledak :-) Tapiiii, percuma meledak, yang hancur malah kita sendiri :-) Hidup terlalu penting untuk dikacaukan hanya oleh masalah sekecil itu :-)

Kembali ke si B, show must go on. Untuk Ibunya, akhirnya dia berikan toples lain. Yang harus dicamkan adalah, bahwa memang tidak selalu segalanya berjalan dengan sempurna :-)

Lalu bagaimana sebaiknya di kemudian hari?
Yang juga harus dicatat adalah, kita bisa mencoba untuk mengubah diri sendiri. Tapi sangat sulit bagi kita untuk mengubah orang lain.

Jika kita pada posisi sebagai si B yang tertib menghadapi si A yang santai, sepertinya lebih baik mencoba untuk mengerti, tentunya (mudah-mudahan) ada alasan yang tepat sehingga dia tidak bisa memegang komitmennya. Kalaupun tidak ada alasan yang tepat, karena memang sudah ”dari sononya” sifat si A, maka justru kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan sifatnya.

Kembali ke contoh kasus toples tadi, kita diberikan saja toples lain, yang memang tidak direncanakan untuk digunakan segera. Sepertinya ini yang paling aman :-) Tapi akhirnya tidak ada pembelajaran bagi si A.
Alternatif yang lebih baik adalah, kita memberikan jadwal yang lebih ketat. Jika kita memerlukan toples itu di hari Jumat, minta ke A agar mengembalikan di hari Rabu, agar masih ada kesempatan jika dia terlambat mengembalikan. Ada baiknya kita jelaskan, mengapa kita perlukan pada hari Rabu, agar A bisa memahami kondisinya.

Jika kita adalah si A yang kurang terorganisir, ada baiknya kita mulai memperbaiki diri. Dalam banyak hal, komitmen kita sangat diharapkan oleh orang lain. Dan komitmen ini menjadi ukuran orang lain dalam mempercayai kita. Ini berlaku dalam hubungan sehari-hari, apa lagi dalam pekerjaan. Cobalah untuk memahami kepentingan orang lain, dan penuhi jadwal yang diminta orang lain, walaupun bagi kita terasa remeh. Misalnya pada kasus toples tadi, mungkin bagi si A tidak menjadi masalah jika toples itu dikembalikan hari Rabu atau hari Jumat, tapi ternyata bagi si B, ada perbedaan signifikan pada kedua pilihan hari tersebut.

Demikian sharing hari ini, semoga bermanfaat :-)

Thursday, December 9, 2010

Makna Hijrah - Buruk Tinggalkan, Baik Mulailah!

Di tahun baru 1432 H ini, saya ingin share sebuah prinsip perubahan diri, yang saya peroleh dari salah satu guru hidup saya, yaitu Ayah saya :-)

Perubahan dapat dibagi menjadi dua klasifikasi. Yang pertama adalah meninggalkan kebiasaan buruk. Dan yang kedua adalah memulai kebiasaan baik.

Sesuai dengan sifat manusia, terdapat perbedaan dalam melakukan kedua perubahan tersebut. Sifat manusia yang berperan di sini adalah sifat sebagaimana digambarkan pada peribahasa ”sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit” dan ”alah bisa karena biasa”.

Maka dalam kebiasaan, manusia cenderung untuk terus meningkat. Sesuatu yang pernah dimulai, biasanya lambat laun akan menjadi sering dilakukan, menjadi lebih lama dilakukan, dan akhirnya terbiasa.

Maka, ada perbedaan strategi untuk menghilangkan kebiasaan buruk dan memulai kebiasaan baik.

Untuk memulai kebiasaan baik, kita dapat melakukannya secara bertahap. Dari hal yang paling sederhana, dari skala yang kecil, dari periode yang jarang. Lambat laun, kita akan terbiasa, dan kita akan dapat melakukan peningkatan. Menuju ke kebaikan yang lebih luas, dalam skala dan jumlah yang lebih signifikan, dan semakin sering dilakukan.

Misalnya, kita ingin membiasakan bersedekah. Kita bisa mulai dengan 1 bulan sekali, setiap kali menerima gaji, dengan besaran misalnya Rp. 5.000.
Jika sudah terbiasa, pada tahap berikutnya, bisa kita tingkatkan, menjadi 1 minggu sekali, misalnya setiap hari Jum’at ke kencleng di masjid kantor, dengan besaran 10.000.
Selanjutnya, bisa ditingkatkan lagi, dan terus ditingkatkan lagi.

Sedangkan untuk meninggalkan kebiasaan buruk, harus dilakukan secara total, drastis, tidak bisa dilakukan secara bertahap. Karena selama kita masih melakukan suatu kebiasaan buruk, walaupun dalam skala yang kecil dan jarang kita lakukan, kecenderungannya adalah kita akan terus melakukan kebiasaan tersebut, malah meningkat, dan bukan menghilangkannya.

Misalnya, kita punya kebiasaan menonton tayangan gosip. Kita tidak bisa berusaha menghilangkan kebiasaan itu dengan cara bertahap. Misalnya kita coba turunkan jadwal menonton, dari setiap hari menjadi dua hari sekali. Kecenderungannya, kita malah akan meningkatkan lama menonton di setiap dua hari sekali itu. Dan lama-lama kita malah kembali ke menonton setiap hari. Yang benar adalah kita benar-benar hentikan sama sekali menonton tayangan gosip. Titik. :-)

Memang yang perlu diingat adalah, bahwa saat memulai adalah biasanya memang saat yang paling berat.

Mungkin bisa dianalogikan dengan ketika kita menderita sariawan. Ketika sariawan sedang cukup parah, maka saat sariawan paling menyakitkan adalah ketika kita bangun tidur. Karena sariawan cenderung tidak tersentuh dan mulut kita tidak banyak bergerak.

Sentuhan pertama pada sariawan, biasanya sangat menyakitkan dan mengejutkan. Namun sentuhan kedua dan berikutnya, biasanya menjadi lebih terasa ringan, dan akhirnya kita bisa makan dan minum dengan sedikit saja terasa sakit.

Ini berlaku di saat kita memulai kebiasaan baik, maupun meninggalkan kebiasaan buruk.

Tapi jika kita memang merasa hal itu adalah yang terbaik untuk kita, dan kita memang berkomitmen, maka harus segera dimulai. Sekarang.

Demikian sharing kali ini, semoga bermanfaat bagi kita semua yang sedang berniat untuk memulai kebiasaan baik dan meninggalkan kebiasaan buruk :-)

Sunday, November 7, 2010

Mungil itu (seolah-olah) Muda :-)

Saya ditakdirkan bertubuh mungil. Sejak TK sampai sekarang sudah menjadi ibu, saya relatif (atau absolut ya hehe..) lebih mungil (kalau disebut pendek kurang keren) dari teman-teman sebaya. Candaan ”semampai – semeter tak sampai” dan”duduk sama rendah, berdiri sama saja” sudah menjadi santapan sehari-hari :-)

Dan ternyata, jadi mungil itu asyik juga lho. Orang jadi sering menyangka saya berumur jauh lebih muda dari yang sebenarnya.

Di tempat umum ketika saya datang sendirian, biasanya orang menyangka saya belum menikah. Biasanya mereka akan sedikit terkejut ketika saya sampaikan saya sudah menikah. Kemudian akan makin terkejut ketika saya bilang sudah punya anak. Lalu mereka akan terkejut luar biasa ketika saya sampaikan bahwa anak saya sudah 3 orang :-)

Di tempat-tempat ketika saya hanya berdua suami, biasanya orang menyangka kami pasangan newly-wed. Pas kebetulan suami saya juga baby face :-)

Kalau saya pergi hanya membawa anak yang bungsu yang berusia dua tahun, biasanya orang menyangka itulah anak pertama saya. Padahal dua kakaknya sudah SD :-)

Yang paling dahsyat, waktu saya ke sekolah anak saya, mau mendaftarkan anak saya ke TK. Saat itu memang saya sedang berkostum santai. Rok jeans, sepatu kets, baju kaus tangan panjang. Saya masuk ke ruang administrasi pendaftaran TK.
Apa sambutan dari petugas administrasi? ”Maaf Dik, pendaftaran SMP di ruang yang sebelah sana!”
Bwahaahaaha.. saya diaggap anak yang mau daftar SMP! Setelah saya jelaskan, baru petugas itu menyambut saya sebagai orang tua murid TK :-)

Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya tetap gembira dengan kemungilan ini. Alhamdulillah, selalu ada hal yang bisa disyukuri :-)

Friday, November 5, 2010

Bersyukur Mantab

Bersyukur intinya adalah berpikir positif. Yakin bahwa ketentuan Allah yang terjadi adalah yang terbaik. Bahwa kondisi yang kita alami bisa jauh lebih buruk. Kali ini kita coba bahas untuk masalah keuangan.

Fenomena orang gajian saat ini adalah, begitu gajian, langsung uangnya habis, untuk bayar berbagai tagihan. Sehingga ada ungkapan ”Gajian mah cuma numpang lewat doang”.

Sesungguhnya walaupun ”Cuma numpang lewat”, kita sungguh harus bersyukur. Bahwa masih ada yang ”lewat”, artinya masih ada sumber pendapatan untuk membayar semua tagihan-tagihan yang datang.

Kondisinya bisa lebih parah.

Jumlah tagihan lebih besar daripada gaji yang masuk. Besar pasak daripada tiang. Pada tahap ini, ada kalanya muncul keluhan ”Haduh sudah mulai mantab nih hidup, makan tabungan”.

Sesungguhnya walaupun ”Mantab”, kita sungguh harus bersyukur. Bahwa masih ada tabungan yang bisa kita gunakan. Bukankah tabungan memang digunakan ketika diperlukan?

Kondisinya bisa lebih parah.

Lebih besar pasak daripada tiang, dan tidak ada tabungan. ”Mesti ngutang terus sama tetangga”.

Sesungguhnya walaupun harus ngutang, kita sungguh harus bersyukur. Bahwa masih ada orang yang bersedia kita hutangi. Bukankah itu artinya kita masih dipercaya bahwa akan membayar?

Kondisinya bisa lebih parah.

Lebih besar pasak daripada tiang, tidak ada tabungan, tidak ada lagi orang yang mau menghutangi.

Namun, sesungguhnya dalam kondisi inipun kita harus tetap bersyukur, karena kita masih punya penghasilan. Mungkin kita harus evaluasi lagi penggunaannya agar bisa mencukupi.

Kondisinya bisa lebih parah.

Tidak ada sumber penghasilan, tidak ada tabungan, tidak ada lagi orang yang mau menghutangi. Hidup menunggu belas kasihan. Kondisi yang sangat sulit. Dibutuhkan kekuatan luar biasa, agar bisa bangkit dan kembali mandiri.

Kembali ke kondisi kita masing-masing. Di manakah kita saat ini?

Bersyukurlah, bersyukurlah, bersyukurlah. Barang siapa bersyukur, maka Allah akan tambahkan. Barangsiapa kufur (tidak bersyukur) maka sesungguhnya azab Allah sangat pedih.

Dengan bersyukur hidup akan terasa lebih tenang. Dan Allah akan tambahkan rezeki dari arah yang tidak kita sangka-sangka.

Kalaupun kita dalam kesulitan keuangan, sesungguhnya masih banyak aspek lain yang dapat kita syukuri. Keluarga, kesehatan, dan yang terpenting adalah keislaman kita (bagi yang muslim).

Namun tentunya, di sisi lain, kita tetap harus melakukan evaluasi atas pengeluaran kita. Jangan-jangan memang ada kesalahan prioritas dalam kita membelanjakan uang kita. Pada dasarnya Allah berikan rezeki yang cukup. Jika dirasa tidak cukup, seharusnya bisa dicukup-cukupkan. Mungkin harus kita turunkan beberapa standar kehidupan kita.

Mari kita perbanyak bersyukur. Bersyukur sepanjang waktu.

Thursday, September 30, 2010

Tempayan Retak

Pagi ini saya menerima pesan yang sangat inspiratif dari teman..

Saya copy paste di sini ya.. Semoga bermanfaat..

=== start copy paste ===

Berikut ini adalah cerita bijak dari Cina, sebagai bahan renungan.

Seorang ibu di Cina yang sudah tua memiliki dua buah tempayan yang digunakan untuk mencari air, yang dipikul di pundaknya dengan menggunakan sebatang bambu. Salah satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya tanpa cela dan selalu memuat air hingga penuh.

Setibanya di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak tinggal separuh.

Selama dua tahun hal ini berlangsung setiap hari, dimana ibu itu membawa pulang air hanya satu setengah tempayan. Tentunya si tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya. Namun tempayan yang retak merasa malu akan kekurangannya dan sedih sebab hanya bisa memenuhi setengah dari kewajibannya.

Setelah 2 tahun yang dianggapnya sebagai kegagalan, akhirnya dia berbicara kepada ibu tua itu di dekat sungai. "Aku malu, sebab air bocor melalui bagian tubuhku yang retak di sepanjang jalan menuju ke rumahmu."

Ibu itu tersenyum, "Tidakkah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalur yang satunya? Aku sudah tahu kekuranganmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu dan setiap hari dalam perjalanan pulang kau menyirami benih-benih itu. Selama dua tahun aku bisa memetik bunga-bunga cantik untuk menghias meja. Kalau kau tidak seperti itu, maka rumah ini tidak seasri seperti ini sebab tidak ada bunga."

Kita semua mempunyai kekurangan masing-masing … Namun keretakan dan kekurangan itulah yang menjadikan hidup kita bersama menyenangkan dan memuaskan. Kita harus menerima setiap orang apa adanya dan mencari yang terbaik dalam diri mereka...

=== end copy paste ===

Tuesday, June 8, 2010

Ujian Keikhlasan

Melakukan perbuatan baik sebenarnya hal yang mudah. Karena fitrah manusia sebenarnya adalah berbuat baik. Setelah berbuat baik, hati akan terasa tenang. Sedangkan setelah berbuat buruk, hati akan terasa gelisah.

Seperti pada hadis yang menyatakan bahwa tanda-tanda perbuatan dosa adalah jika hatimu tidak tenang karenanya.

Maka jika hati kita gelisah, waktunya untuk menelaah lebih jauh, mungkin ada dosa yang secara tidak sadar telah kita lakukan.

Kembali ke perbuatan baik.

Berbuat baik itu mudah. Karena sesuai fitrah, maka hati pun akan senang ketika melakukan perbuatan baik. Maka kita termotivasi untuk melakukan perbuatan baik.

Bagaimana jika dinaikkan tingkatnya. Berbuat baik secara kontinyu, rutin. Mulai sulit. Sulitnya adalah melawan rasa bosan. Melawan rasa "nggak ngaruh juga kayaknya".

Yang lebih sulit lagi, berbuat kebaikan, rutin, kontinyu, dan tetap ikhlas.

Apa lagi jika kebaikan itu berhubungan dengan orang lain. Dalam arti kita berbaik hati pada orang lain. Orang lain memperoleh manfaat dari kebaikan hati kita.

Yang menjadi masalah adalah jika timbal balik dari orang tersebut tidak sesuai dengan harapan. Ketika kita mulai berpikir "mbok yao", "tau dirilah", "coba untuk mengerti", "pahami posisimu".

Maka kita sudah berada pada tataran ujian keikhlasan. Kita sudah mulai memikirkan balas budi. Memberi dan harapan menerima.

Padahal ikhlas adalah memberi karena Allah. Hanya karena Allah. Lupakan kita telah memberi. Maka dengan sendirinya kita tidak akan perlu timbal balik.

Lebih jauh lagi, sesungguhnya Allah lah pemegang dan pembolak-balik hati. Bahwa Allah telah memberikan kesempatan untuk berbuat baik, bahwa Allah telah menggerakkan hati kita untuk berbuat baik. Adalah hal yang sungguh-sungguh harus disyukuri. Adalah semata-mata anugrah Allah juga.

Karena itu sebenarnya kita tidak perlu mengakui suatu perbuatan sebagai "hasil karya" kita, maka timbal balik apa pun seharusnya tidak mempengaruhi hati kita. Kita harus bisa tetap melihatnya secara jernih, datar, netral.

Ada kesempatan kebaikan, lakukan. Lupakan.

Apakah saya jadi dimanfaatkan? Tidak perlu dipersoalkan.

Mungkin dengan begitu kita akan lebih ringan untuk tetap ikhlas dalam berbuat baik secara rutin dan kontinyu.

Mengalah (Semoga) Bukan Kalah

Salah satu hadis yang menurut saya penting adalah hadis berikut :
"Barangsiapa yang berada dalam perdebatan, dan mempunyai kesempatan untuk memenangkan perdebatan itu tetapi dia meninggalkannya, maka sesungguhnya dia adalah orang yang beruntung".

Kita seringkali sulit untuk menerima kekalahan dalam suatu pertikaian. Apa lagi jika kita merasa berada pada posisi yang benar.

Ada juga sih yang sebenarnya sudah salah, tapi juga tidak mau mengaku. Yang ini kebangetan sebenarnya. Tapi ini juga sering terjadi.

Bagaimana sih sebenarnya benar dan salah itu?

Karena masing-masing orang memiliki serangkaian fakta dan persepsi yang berbeda, maka memang seringkali benar salah jadi berbeda menurut setiap orang.

Justru dari situlah pertikaian biasanya terjadi. Satu pihak merasa bahwa dia benar dan yang lain salah. Juga sebaliknya.

Butuh kekuatan yang sangat besar untuk bisa mencoba menerima, mengakui, merelakan, bahwa yang kita anggap salah itu menjadi benar. Bahwa kita yang salah, dan dia yang benar. Berubah dari sebelumnya bahwa dia yang salah dan kita yang benar.

Namun kalau itu sudah kita lakukan, maka dampaknya sungguh luar biasa.

Bukan sekedar selesainya persoalan dan menangnya pihak lain, tapi beban dalam hati seperti diangkat secara serta-merta.

Hal ini tentu berlaku dalam hal benar salah yang bersifat relatif, dalam hukum-hukum yang dibuat manusia, dalam kesepakatan-kesepakatan dan hubungan manusia sehari-hari.

Apakah dengan mengalah itu kita menjadi orang yang tertindas? Tidak punya kekuasaan? Terperdaya? Mungkin juga.

Tapi toh bukan itu juga yang kita cari dalam hidup. Yang kita cari adalah memberikan manfaat kepada sebanyak mungkin pihak. Jika mengalah memberi manfaat, tidak ada salahnya untuk dicoba.

Mungkin seperti kalah, tapi hakikatnya kita menang. Paling tidak atas diri kita sendiri.

Friday, June 4, 2010

Bersalahkah Ibu Bekerja?

Beberapa ibu bekerja memiliki perasaan bersalah bahwa dia telah meninggalkan rumah, meninggalkan keluarga untuk pergi bekerja.

Akibatnya, dia pergi dengan separuh hati dan pikiran masih di rumah. Dan berharap dapat segera kembali pulang.

Bila ada tugas tambahan yang menyebabkan dia harus pulang lebih lambat, dia kerjakan dengan secepat mungkin, agar kalaupun terjadi kelambatan pulang, tidak terlalu signifikan.

Bila ada acara "ekstra kurikuler" di luar jam kerja, setelah jam kerja, maka bisa dipastikan bahwa dia tidak akan ikut, demi mencapai tujuan rutin hariannya untuk dapat pulang tepat waktu.

Padahal..

Dia bekerja pun bukan untuk dia sendiri.
Penghasilan yang dia peroleh digunakan untuk anak-anaknya, keluarganya.
Dia bukan meninggalkan keluarga lalu menelantarkannya.
Dia tetap memastikan bahwa seluruh operasional keluarga berjalan dengan baik.
Dia telah delegasikan tugas-tugas penanganan keluarga kepada orang-orang yang terpercaya.

Dengan bekerja dia bisa mengamalkan ilmunya.
Mengamalkan ilmu sebagai tanda bakti kepada orang tuanya yang telah menyekolahkannya.
Dengan memiliki penghasilan, dia juga bisa membantu keluarga besarnya yang membutuhkan.

Mengamalkan ilmu, berbakti pada orang tua, membantu keluarga, membantu keluarga besar, pada dasarnya adalah amal soleh.

Dengan melihat dari sisi ini, maka semestinya tidak perlu ada rasa bersalah pada ibu yang pergi bekerja.

Tidak perlu ada rasa keterburuan jika ada tugas tambahan. Bekerja dengan tenang tentu akan memberikan hasil yang lebih baik.

Acara "ekstra kurikuler" pun ada baiknya sekali-sekali diikuti. Karena dalam pertemuan informal, interaksi dengan rekan kantor akan lebih cair dan memudahkan dalam pelaksanaan tugas yang memerlukan koordinasi.

Kalau pun ada acara "ekstra kurikuler" yang tidak diikuti, alasannya bukan sekedar untuk pulang lebih cepat, tetapi lebih kepada kesesuaian jenis acara dengan hati nurani.

Sekedar renungan seorang ibu bekerja yang sampai sekarang masih terus mempertimbangkan hakikat tugasnya di dunia :-)

Wednesday, June 2, 2010

Manajemen Ekspektasi

Sedih dan gembira itu sebenarnya reaksi atas selisih antara ekspektasi dan realisasi. Jika realisasi di bawah ekspektasi, maka kita akan sedih. Jika realisasi di atas ekspektasi, maka kita akan gembira.

Faktanya, realisasi tidak dapat dikendalikan. Realisasi terjadi di luar kontrol kita, sesuai dengan hukum sebab akibat yang terjadi berkaitan dengan realisasi tersebut.

Bagaimana dengan ekspektasi?
Seringkali kita anggap ekspektasi juga tidak bisa kita kendalikan. Ekspektasi kita anggap terjadi begitu saja, pada saat kita melakukan suatu aksi.

Apa benar demikian?
Semestinya, idealnya, tidak. Semestinya kita bisa mengendalikan ekspektasi.

Kapan ekspektasi dikendalikan?
Bisa segera setelah kita melakukan aksi. Bisa ketika kita menerima realisasi.

Jika dilakukan segera setelah kita melakukan aksi, maka kita akan lebih siap menerima realisasi paling minimal sekalipun. Maka kita tidak akan perlu bersedih.

Jika dilakukan pada saat kita menerima realisasi, maka sesaat kita sempat bersedih. Tetapi setelah dilakukan setting ulang ekspektasi, kita bisa tidak lagi bersedih. Menjadi netral. Bahkan bisa menjadi gembira.

Lalu di mana kita meletakkan syukur dan sabar?
Dengan manajemen ekspektasi ini, syukur dan sabar bisa lebih mudah kita tempatkan.
Jika manajemen ekspektasi sudah dilakukan segera setelah kita melakukan aksi, sehingga kita siap dengan realisasi seminimal apapun, maka kita pada posisi akan selalu bersyukur dengan kondisi apapun yang kita terima pada realisasi.
Jika manajemen ekspektasi dilakukan setelah kita menerima realisasi, maka di sini peran sabar. Dengan kesabaran kita dapat melakukan setting ulang ekspektasi, mencoba menghitung ulang perbandingannya dengan realisasi, dan terus mengulang loop ini sampai hasilnya positif. Setelah positif, maka kita bisa bersyukur.

Di mana letak ikhlas?
Dengan konstelasi ini, maka letak ikhlas adalah ketika kita berusaha melakukan manajemen ekspektasi. Bahwa ekspektasi kita bukan pada hasil dari aksi. Bahwa aksi itulah yang justru menjadi point bagi kita. Bahwa hanya Dia yang kita jadikan sasaran.

Sambutan anak, penerimaan suami, rekognisi atasan, jika itu yang dijadikan indikator, maka bersiaplah untuk bersedih. Karena itu di luar kontrol kita.

Dengan ikhlas, dengan manajemen ekspektasi yang minimal kepada hasil dari aksi, dengan memusatkan daya kepada pengejawantahan proses dan perwujudan aksi, maka hasil menjadi tidak lagi terlalu berarti. Maka sedih tidak akan terjadi. Maka syukur akan selalu menghiasi hati.

Yang belum masuk adalah, di mana letak harapan, pemikiran positif, yang bagaimanapun adalah doa?Yang justru bisa men-drive realisasi?Ini masih harus dirumuskan. Mungkin pada tulisan berikutnya. Mudah-mudahan.

Ditulis dengan cepat ketika pulang malam dari kantor di tengah kemacetan Jakarta, 2 Juni 2010

Saturday, May 15, 2010

Satu Langkah

Memiliki impian membuat kita terus bergerak
Cita-cita setinggi langit menjadi inspirasi untuk tetap melangkah
Manusia sempurna adalah ia yang terus melangkah, berlari, bahkan terbang jika memungkinkan

Namun setiap terbang perlu putaran di landas pacu
Di setiap lari harus ada tolakan ke lintasan lari
Setiap langkah membutuhkan tanah untuk menjejak

Pada setiap tindakan perlu melihat kondisi
Keterbatasan memang tidak seharusnya menjadi penghalang
Tapi keterbatasan itulah kenyataan yang kita miliki
Kita harus bergerak berdasarkan keterbatasan itu

Ketidakpuasan memang bisa menjadi pemacu
Kesedihan memang bisa menjadi pembuat semangat untuk berubah

Namun pemikiran rasional membuat kita berpikir lebih jernih
Pemikiran yang tidak emosional akan membuat kita mengambil keputusan yang lebih tepat

Berpikirlah rasional, berpikirlah realisitis
Sebelum mengambil keputusan
Apa lagi keputusan yang penting dalam hidup
Yang akan mengubah kehidupan secara drastis

Berencanalah, bertindak dengan perlahan
Pertimbangkan semua faktor yang bisa berhubungan

Mungkin keputusan yang terbaik bukan yang membuat kita senang
Mungkin juga bukan impian yang ideal
Mungkin masih sangat jauh dari langit cita-cita kita

Tapi langkah akan sudah dijalankan
Dari langkah yang satu itu, bisa kita lakukan langkah-langkah berikutnya
Tugas manusia adalah melangkah, berlari, terbang
Sampai atau tidak sampai adalah keputusan Tuhan