Sunday, April 17, 2011

Blog Baru :-)

Dear pembaca sekalian,

Mulai hari ini, 18 April 2011, blog saya pindah ke tempat baru ya..
Yaitu ke http://carik-catatan.blogspot.com/

Sementara blog ini masih tetap eksis, tapi tidak akan ada update..

Sampai jumpa di blog yang baru yaa.. :-)

Terima kasih..

Bunda Khadijah

Thursday, April 14, 2011

Tawakkal – Ciri Seorang Mukmin

Hari ini ceramah dzuhur tentang sikap tawakkal, disampaikan oleh Ust. Muhsinin Fauzi. Berikut yang bisa saya catat, semoga bermanfaat :-)

Di awal pembahasan tentang sikap tawakkal, digambarkan bahwa bagi mereka yang melakukan dosa pun, ketika bertaubat, sebaiknya tidak hanya berfokus kepada kesalahan, melainkan berfokus pada ampunan Allah. Jika ia lebih berfokus pada kesalahannya, maka ia dapat dianggap sebagai seseorang yang kurang ketergantungannya pada Allah.

Hal ini juga sejalan dengan pemahaman bahwa kita hidup di masa kini, maka fokuslah ke masa kini, bukan ke masa lalu. Sehingga jika kita telah melakukan dosa, kita sebaiknya lebih berfokus kepada ampunan Allah daripada ke dosa yang telah kita perbuat.

Tawakkal kepada Allah adalah rasa bersandar dan ketergantungan pada Allah, yang merupakan simbol kehambaan. Setelah keislaman, keimanan, maka yang berikutnya adalah tawakkal pada Allah, sebagaimana dalam doa ruku’ dan sujud kita.

Jika beriman maka kita akan bertawakkal. Tawakkal adalah implementasi iman rububiyah. Ekstrimnya, jika kita bertawakkal seperti tawakkal seekor burung, maka jika di pagi hari ia lapar, di sore hari ia akan kenyang, karena Allah akan berikan kecukupan.

Definisi Tawakkal pada Allah : menyerahkan urusan pada Allah disertai usaha semaksimal mungkin.

Definisi Menyerahkan, sepenuhnya menyerahkan, tidak ditarik kembali. Benar-benar pasrah, tidak ada keraguan bahwa Allah yang memiliki kekuasaan. Tidak ada pernyataan “Lalu nanti bagaimana?”

Contoh sikap pasrah adalah ketika Rasulullah diancam dengan pedang di leher, Rasulullah tidak melakukan gerakan apa pun, usaha apa pun, kecuali pasrah bahwa Allah yang akan menolong.

Sikap pasrah berlaku untuk urusan dunia maupun urusan akhirat. Contohnya ketika kita harus tetap yakin untuk dapat berhaji dengan pertolongan Allah walaupun gaji tidak memadai, atau ketika kita bergantung pada Allah untuk kesalehan anak, walaupun kita telah mengusahakan berbagai upaya pendidikan.

Jika kita telah pasrah, dan hasil yang diperoleh tidak sesuai, kita akan siap. Rasulullah ketika ada benda yang terjatuh akan berkata, “Sudah takdirnya.” Menghadapi berbagai masalah di perang Uhud dan perang Hunain, beliau tetap tenang. Karena dengan pasrah, hati akan senantiasa damai.

Dalam menyerahkan, maka ada dua faktor yang berperan :

Pertama, pengakuan mendalam Allah Mahakuasa, ma'rifatullah. Secara formal, kita pasti menyatakan bahwa Allah berkuasa. Namun secara “informal” kita sering tidak mengakui kekuasaan Allah. Contohnya ketika kita berkata, “Mana bisa tidak kerja mau makan. Mana bisa tidak sekolah lalu kaya.” Karena pada dasarnya Allah Mahakuasa, Allah dapat “menembus” sebab akibat. Serahkan pada Allah, maka tidak ada yang mustahil.

Yang kedua adalah kerendahan hati bahwa kita tak memiliki kuasa, bahwa kita adalah seorang hamba.

Seringkali kita baru dapat tawakkal pada saat benar-benar terdesak. Padahal dari awal, dalam kondisi apa pun, kita sebenarnya selalu tidak berdaya.

Seseorang hebat, sebenarnya karena Allah topang, sehingga terlihat hebat. Seseorang dapat menjadi direktur, karena Allah buat loyalitas pada karyawan dan seluruh bawahannya. Seorang wanita terlihat hebat dan berkuasa atas suaminya, karena Allah berikan rasa cinta pada suaminya, sehingga suaminya tunduk padanya. Seseorang memiliki uang banyak di bank, karena Allah jaga agar dia ingat dengan semua kekayaannya itu. Jika Allah cabut semua topangan, maka semua hilang begitu saja, dalam sekejap. Selesai.

Menjadi pedagang banyak kebaikan, karena dengan berdagang, seseorang berada dalam kondisi riskan, bisa untung bisa rugi, sehingga senantiasa memohon bantuan Allah. Karyawan yang rutin mendapatkan gaji, sering meremehkan peran Allah sebagai pemberi rezeki. Padahal perusahaan tempatnya bekerja pun bergantung dari kegiatan perdagangan. :-)

Ketika Allah berikan kondisi sehingga kita sempat tawakkal, bersyukur, sebenarnya itu adalah kabar baik. Segala naik turun dalam kehidupan, sebenarnya adalah kabar baik.

Dan yang penting diperhatikan adalah bahwa perlu ada keseimbangan antara pasrah dan usaha maksimal. Ada pemahaman bahwa pasrah dilakukan setelah usaha. Padahal pasrah dilakukan sejak awal, sejak pada proses azam. Maka pasrah dilakukan bersamaan dengan usaha.

Pasrah itu benar-benar menyerahkan diri, bahwa penyangga satu-satunya adalah Allah, sehingga ketika penyangga lepas, maka jatuhlah kita. Dalam doanya, Rasulullah senantiasa bersabda, “Jika Engkau tidak menangkan pasukan ini,.. Jika Engkau tidak berikan..” dst. Bahwa segala sesuatu benar-benar karena pemberian Allah.

Untuk usaha maksimal, maka kita mencontoh pada Rasulullah dalam menyebarkan hidayah. Rasulullah benar-benar tidak menyerah, tidak berhenti, dan tetap bertahan walaupun menghadapi berbagai rintangan yang begitu hebatnya.

Maka Definisi Usaha Maksimal :

Pertama, memberikan semua waktu sampai akhir hayat. Selama masih ada waktu, maka masih ada yang bisa dilakukan. Bahkan dalam hadits disampaikan, “Jika engkau mengetahui bahwa besok kiamat, dan di tanganmu masih ada sebuah biji, maka tanamlah.” Tak ada kata berhenti berbuat. Tak ada waktu untuk duduk manis.

Kedua, menggunakan semua potensi, yang biasanya dilandasi oleh panggilan jiwa dan keikhlasan. Dengan demikian, keberhasilan akan diterima dengan kedamaian dalam hati, kegagalan akan diterima dengan lapang dada. Sebagaimana pasukan muslim yang tidak nelangsa dalam perang Uhud dan Hunain, karena meyakini itu adalah keputusan Allah. Kita tidak perlu merasa besar karena keberhasilan, dan juga tidak merasa kecil karena kegagalan.

Ketiga, menggunakan semua kemungkinan, karena selalu masih ada kemungkinan. Tidak ada kata menyerah, terutama dalam dakwah. Keberhasilan bukan ketika menggapai sesuatu, tetapi ketika mampu melewati kegagalan dan masalah. Insya Allah nanti Allah akan berikan keberhasilan.

Kesempurnaan pasrah dan usaha adalah ketika kita pasrah seakan-akan tidak melihat usaha, dan kita berusaha seakan-akan tidak melihat pasrah. Jika ada ketidakseimbangan, maka belum sempurna.

Jika telah tawakkal, maka kita akan ridha kepada Allah. Hasil apa pun kita puas. Kita akan menikmati kemenangan-kemenangan kecil, dan tetap dapat mempertahankan motivasi. Kegagalan tidak dianggap sebagai kegagalan, karena kegagalan sebenarnya adalah bagian dari proses.

Kita menyerahkan urusan bukan hanya pada hasil, tapi juga pada sebab dan proses. Jika hasilnya baik, biasanya karena prosesnya baik. Jika hasilnya tidak baik, tetap jalani prosesnya, mudah-mudahan akan menjadi baik.

Proses disikapi dengan ridha. Seperti ketika Rasulullah yang selama 13 tahun berdakwah seperti tidak ada hasilnya. Tahapannya adalah syukur, sabar, tawakkal, baru kemudian ridha. Ridha dapat didefinisikan sebagai rasa sangat puas, menerima dgn suka cita. Termasuk juga dalam kaitan dakwah.

Sikap tawakkal adalah termasuk salah satu amalan hati yang wajib.

Manfaat dari sikap tawakkal :
1. Menambah poin kesempurnaan iman (di antara 10 faktor kesempurnaan iman).
2. Memberikan suasana bahagia dan nyaman, karena kita senantiasa ridha pada proses dan hasil.
3. Memberikan kualitas ibadah. Jika kepasrahan baik, penerimaan baik, maka ibadah baik.
4. Allah akan mencukupi

Tawakkal adalah cara luar biasa yang Alalh berikan pada mukmin untuk mencapai tujuan. Ketika kita menyerah dan pasrah, Allah justru akan berikan. Berbeda dengan ketika kita bergantung pada manusia, biasanya manusia justru kesal. Tapi Allah justru senang ketika kita hanya bergantung pada-Nya.

Beriman kepada Allah itu lezat, ada rasanya. Salah satu kue keimanan adalah pada sikap tawakkal.

Dzikir untuk meningkatkan tawakkal : Hasbiyallah wa ni'mal wakil.

Monday, April 11, 2011

Mimpi

Katanya jika kita punya mimpi, sebaiknya kita deskripsikan dengan detil, lebih baik lagi kalau dituliskan. Bagaimana pun mimpi adalah harapan, dan harapan adalah doa, dan doa dapat memudahkan terwujudnya kenyataan.

Maka, hari ini saya akan tuliskan mimpi saya, untuk di hari tua nanti :-) Ceritanya saya sudah berusia 50 tahun :-) Anak-anak saya sudah berusia 22 tahun, 21 tahun, dan 14 tahun. Satu anak kuliah di Saudi Arabia, satu di Bandung, satu sekolah boarding di Tangerang.

Saya sendiri sudah sekitar 10 tahun punya perusahaan yang cukup besar, bergerak di bidang kesehatan alami, dengan karyawan sekitar 2000 orang. Suami saya sudah memiliki usaha sendiri juga, setelah berhenti terhormat sebagai Direktur Utama di perusahaan tempat dia bekerja. Dia juga aktif di berbagai organisasi sosial. Anak-anak saya juga sudah memiliki bisnisnya masing-masing, yang dijalankan sembari sekolah, melalui internet.

Saya dan suami sudah tidak sesibuk ketika masih muda, dan suami sedang rajin-rajinnya mendekatkan diri kepada Allah. Dia sudah hafal 20 juz, berusaha menyusul saya yang sudah hafal lebih dari 20 juz. Saya mendampingi suami shalat 5 waktu di masjid dekat rumah, yang juga dekat dengan kantor kami masing-masing.

Sebulan sekali kami menengok anak saya Saudi Arabia, dan menikmati shalat di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Sebulan sekali juga kami menengok ke Bandung dan Tangerang, atau mereka yang pulang ke rumah kami.

Hehehe, sekian dulu mimpi sore ini, mohon doanya semoga menjadi kenyataan :-)

Sunday, April 10, 2011

Yuk Kita Ganti "Cape Deh" dan "EGP"

Kalimat "Cape Deh" dan "Emang Gue Pikirin", sudah menjadi kalimat yang umum diucapkan. Malah untuk "Emang Gue Pikirin" sudah ada singkatannya, EGP, yang semua orang sudah langsung mafhum. Kedua kalimat itu begitu ringan diucapkan, namun sebenarnya jika ditelaah lebih jauh, merefleksikan sikap umum orang Indonesia, yang sayangnya negatif.

Mohon maaf sebelumnya untuk yang sering mengucapkan ya.. Saya juga kadang-kadang mengucapkan, tapi mudah-mudahan ke depan bisa dihilangkan :-)

"Cape Deh" mencerminkan sikap malas, menghindari pekerjaan, berkontribusi minimal (tapi mengharap hasil maksimal), mudah menyerah, dan tidak bersemangat. Dan memang demikian pada umumnya sikap orang Indonesia. Kalau ada pembagian tugas, cenderung memilih yang ringan, lalu bisa cepat istirahat. Kalau ada pekerjaan, dihadapi dengan setengah hati, dikerjakan sekenanya, lalu segera istirahat. Orang Indonesia cenderung tidak memandang bekerja sebagai hal yang terhormat. Bekerja dianggap melelahkan, berkonotasi kalangan bawah. Kalangan atas bersantai dan dilayani.

"Emang Gue Pikirin", menunjukkan sikap apatis, tidak peduli, juga ada unsur malas, mementingkan diri sendiri, egois, dan oportunis, juga tidak punya rasa malu dan rasa bersalah. Hal ini mudah sekali terlihat di sekitar kita. Orang saling berebutan jalur di jalan, orang menyerobot di antrian, si kaya jor joran padahal di sekitarnya banyak orang yang kurang mampu.

Memang, saya yakin tidak semua orang Indonesia seperti itu. Namun, menjamurnya kalimat ini akan semakin memperluas sikap-sikap buruk tadi. Coba kita lihat lagi kalimat-kalimat lain yang sempat ngetop juga. Gubrak, Sumpe Lo, Jayus, Lebay, misalnya. Mana ya, yang berkonotasi produktif, membangkitkan semangat?

Oya ada satu yang bagus, yang dimasyarakatkan oleh Pandji, "Bisa!". Tapi sayangnya kurang bergaung menjadi bahasa gaul ya?

Yuk kita mulai, saya coba usul beberapa kalimat yang mudah-mudahan cukup "menjual" untuk jadi trend :-)
Semangat Jaya! (disampaikan kepada orang yang sedang kurang bersemangat)
Kerja Dooong! (diucapkan dengan bangga oleh seseorang yang sedang sibuk)
Malu Kalee! (diucapkan kepada orang yang melakukan kesalahan/pelanggaran)
Boleh Aaah! (diucapkan oleh seseorang yang sukses melakukan sesuatu, yang sering dianggap "lebay" oleh yang lain)

Kalau ada ide kata-kata lain, silakan digaungkan di pergaulan, diusulkan di sini juga boleh, nanti kita gaungkan di sini :-) Atau kalau punya teman yang selebriti atau tokoh masyarakat, bisa tolong dititipkan untuk menggaungkan :-) Mudah-mudahan diawali dengan kalimat-kalimat ringan, pelan-pelan kita bisa memperbaiki sikap seluruh bangsa Indonesia.

Wehehe.. Boleh aahh, bercita-cita setinggi langit :-) Kita sebagai orang tua, paling tidak bisa memulainya untuk anak-anak kita. Kalaulah orang-orang dewasa Indonesia sudah tidak bisa diubah, paling tidak kita punya harapan bahwa generasi mendatang akan lebih baik. Oke sementara itu dulu. Mungkin ada yang tanya, "Kok udahan?". Saya akan jawab, "Udah dulu ya. Boleh aah. Mau kerja doong. Masak email-emailan terus. Malu kaleee." :-)

Thursday, April 7, 2011

Indahnya Menjadi Ahli Masjid

Kamis siang ini, Ceramah Dzuhur disampaikan oleh Ust. Sukeri Abdillah, MBA., dengan judul Keutamaan Ahli Masjid.

Salah satu keutamaan Ahli Masjid adalah sebagaimana pada hadits, “Jika engkau melihat seseorang yang ke masjid setiap shalat 5 waktu, maka catatlah bahwa ia adalah seorang mukmin.” Maka tanda orang beriman adalah kehadirannya ke masjid di setiap shalat 5 waktu.

Selain itu, rumah Allah di bumi adalah masjid. Dan Allah mewajibkan diri-Nya untuk memuliakan org yang mengunjungi rumah-Nya Hal ini berkaitan dengan hadits, “Ciri-ciri orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tamu.”
Maka Allah pun akan memuliakan mereka yang hadir di rumah-Nya.

Adapun kita sebagai tamu di rumah Allah, adab ketika memasuki masjid adalah segera melakukan shalat 2 rakaat tahiyatul masjid. Bahkan kita disarankan untuk tidak menyapa siapa pun sebelum melakukan shalat sunnah tersebut, walaupun orang itu adalah orang yang sangat kita hormati.

Ada sebuah kisah tentang seorang pedagang yang hijrah dari Sumatera ke Jakarta. Ia memulai usahanya dengan berdagang kecil-kecilan di pasar. Sebelum mulai berdagang, ia terlebih dahulu shalat subuh di masjid di dekat pasar itu. Jika tiba waktu dhuha, maka dagangan ia tinggalkan, dan ia pun melakukan shalat Dhuha. Jika menjelang waktu shalat, ia bersiap 30 menit sebelumnya, dan melakukan shalat. Dzuhur, Ashar, dan Maghrib di masjid. Selesai Maghrib, ia tinggal di masjid, mendengarkan berbagai kajian, yang semakin memperluas wawasan keislamannya.

Saat ini dia telah menjadi pengusaha sukses, dengan zakat mal sejumlah Rp 150 juta setiap tahunnya. Jika 150 juta adalah 2.5%, maka simpanannya adalah sebesar Rp 6 milyar. Belum lagi hasil usahanya setiap tahun. Namun ia tetap rendah hati, tidak silau dengan kemilau dunia. Menurutnya, jabatan, harta, tidak lebih hanya sebagai fasilitas. Jika telah dirasakan, tidak ada perbedaan yang nyata antara mobil murah dengan mobil termahal sekalipun.

Di usianya yang telah 80 tahun saat ini, beliau masih selalu shalat Subuh di masjid, dan tiba 30 menit sebelum adzan berkumandang. Beliau masih sangat energik, dan tidak menderita sedikit pun penyakit kronis. Penyakit-penyakit ringan biasanya sembuh diobati dengan madu. Tidak pernah dalam hidupnya beliau menggunakan obat-obat kimia.

Ini menjadi bukti, bahwa mereka yang menjadi Ahli Masjid, akan dihormati Allah, dijaga oleh Allah, baik di dalam masjid maupun di luar masjid. Mereka akan senantiasa berada dalam kelompok org yg selalu berada dalam hidayah Allah. Allah akan mudahkan dan bantu agar mereka senantiasa ringan untuk datang ke masjid.

Kembali ke pengusaha ahli masjid tadi, beliau juga tidak pernah putus shalat tahajjud dan dhuha sejak hijrah ke Jakarta itu. Pernah ditanyakan, apakah pernah merasa berat untuk shalat tahajjud? Jawabannya mengagumkan, “Justru saya merasa berat untuk melanjutkan tidur, ketika jam biologis sudah membangunkan saya untuk shalat tahajjud.” Subhanallah, bagi ahli masjid, Allah akan ringankan hati dan raganya agar terus dapat mendatangi masjid-Nya.

Seperti hadits yang sudah sering kita dengar, tentang perumpamaan sebuah sungai yang mengalir di depan rumah seseorang, dan ia mandi di sana 5 kali sehari, apakah ada kotoran yang tersisa? Sungguh tidak ada. Maka demikian pula dengan shalat 5 waktu, Allah hapuskan dosanya seiring dengan shalatnya, seiring dengan kehadirannya di masjid. Sesungguhnya setiap langkah ke masjid menghapus dosa langkah sebelumnya. Seperti daun kering yang ditiup angin.

Jika kita coba bayangkan, seseorang yang shalat 5 waktu ke masjid, lalu di luar waktu-waktu shalat itu ia bekerja, menunaikan kewajiban, mencari nafkah. Akankan ada kesempatan untuk melakukan maksiat? Sungguh tidak akan sempat! Ia akan menjadi sangat sibuk, menata waktunya sebaik mungkin, agar sempat untuk melakukan shalat 5 waktu di masjid.

Saat ini masih banyak muslim yang belum merasakan pentingnya, indahnya, utamanya menjadi ahli masjid. Bahkan ketika adzan shalat Jum’at telah berkumandang, masih ada mereka yang masih bertransaksi dengan pedagang di luar masjid, masih merokok, masih makan di kantin masjid. Jika kita perhatikan kehidupan mereka, maka Allah akan jadikan kehidupan biasa saja. Mereka sering kali belum meraih kehidupan yang maksimal, karena mereka juga belum memberikan yang maksimal pada Allah.

Lalu siapa yang berperan untuk menyebarluaskan keutamaan menjadi ahli masjid ini? Hal ini harus disebarluaskan secara getok tular. Kita semua harus berperan sebagai pendakwah bagi orang di sekitar kita, kita perlakukan semua orang di sekitar kita sebagai sasaran dakwah kita. Agar kita dapat melakukannya dengan ikhlas, lakukan dengan tanpa pamrih kecuali pada Allah, dan lakukan untuk makhluk hanya jika memberi dengan cinta.

Kita bisa belajar banyak dari orang Jepang, yang tetap tertib dan tenang ketika menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami beberapa waktu yang lalu. Pendidikan di Jepang dimulai di setiap rumah, dan di lingkungan. Bayi sejak berusia 3 bulan, dititipkan di penitipan anak dan diajarkan kemandirian. Anak di usia TK diajarkan rasa malu untuk berbuat salah. Ketika ia dibantu untuk memasang sepatu, misalnya, maka ia akan lepaskan kembali sepatu itu, ia ulangi memasangnya seperti yang telah dicontohkan. Di usia SD, anak diajarkan tentang kemandirian, tanggung jawab, dan rasa malu melakukan kesalahan. Setelah SMA, mereka bekerja mencari uang untuk kuliah.

Para guru mengajar dengan penuh tanggung jawab. Bagi mereka, mengajar bukan sekedar memastikan para murid lulus, tapi juga mereka bertanggung jawab sampai para murid itu bekerja bahkan sampai akhir hayat para guru. Maka mereka berusaha mewariskan seluruh ilmunya, agar para murid bisa menjadi lebih baik dari para gurunya.

Dari masyarakat Jepang, kita bisa belajar tentang keutamaan dalam kehidupan. Namun sebenarnya Islam punya kekuatan yang lebih. Islam punya konsep keimanan, koneksi Ilahiyah. Maka marilah kita berbagi, getok tolar, agar kita semakin mendapatkan kemakmuran dengan berbagi.

Di hari akhir nanti, ada 7 kelompok manusia yang mendapatkan naungan, salah satunya adalah orang yang hatinya terikat ke masjid. Subhanallah. Perlindungan Allah bagi ahli masjid sungguh luas, di dalam masjid, di dunia, bahkan sampai di padang mahsyar hari akhir. Marilah kita berdoa semoga keluarga kita termasuk ke dalam golongan ahlul masjid.. Aamiin....